Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ اْلإِنْساَنَ خُلِقَ هَلُوْعاً, إِذاَ مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوْعاً, وَإِذاَ مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوْعاً, إِلاَّ الْمُصَلُّوْنَ, الَّذِيْنَ هُمْ عَلَى صَلاَتِهِمْ داَئِمُوْنَ
Sungguh manusia itu diciptakan bersifat keluh kesah, bila ditimpa keburukan ia pun mengeluh, dan bila mendapat keuntungan ia pun angkuh, kecuali orang yang mendirikan shalat, yang selalu memelihara dan menegakkan shalatnya. (QS. Al-Ma’arij : 19-20).
Melalui ayat ini dapat kita fahami bahwa orang yang tidak berkeluh kesah, angkuh dan kikir ialah; orang yang tegak shalatnya secara sempurna, dan dengan shalat ia dapat mengatasi jiwa dan fikirannya. Sehingga bagaimanapun gelombang hidup ini, tidak menggoyahkan imannya. Dia selalu optimis dan bersemangat, maka Allah pun memberikan kepadanya kekuatan dan kedamaian di dalam kalbunya. Karena itu, perhatikan ayat berikut ini,
وَاسْتعَيِنْوُاْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ
Dan minta tolonglah kamu kepada Allah Ta’ala dengan bersikap sabar dan dengan melakukan shalat. (QS. Al-Baqarah : 45).
Shalat itu ada yang fardhu dan ada pula yang sunnah. Maka apabila ketenangan hati dan jiwa belum tercapai dengan melalui shalat-shalat fardhu, sudilah kiranya melakukan shalat-shalat sunnah yang antara lain ialah; shalat sunnah tahajjud, shalat sunnah hajat, shalat sunnah taubah, shalat sunnah tasbuh, dan shalat sunnah fajar. Insha Allah, Allah akan melapangkan hati dan menenteramkan jiwa.