Allah Ta’ala menyatakan,
إِنَّ اللهَ يُحِبُّ التَّواَّبِيْنَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيْنَ
Sungguh Allah Ta’ala sangat mencintai orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang senantiasa bersuci. (QS. Al-Baqarah : 222).
Oleh karena itu, Nabi bersabda,
النَّظاَفَةُ مِنَ اْلإِيْماَنِ
Kebersihan adalah sebagian daripada iman. (HR. Muslim).
Lebih tegas lagi dalam ucapan baginda Nabi saw,
الطَّهُوْرُ شَطْرُ اْلإِيْماَنِ
Suci itu separuh iman. (HR. Bukhari).
Dari dua hadis ini, tentu suci atau bersih dimaksud tidak hanya yang lahiriyah, akan tetapi mencakup bersih, suci; lahir dan batin. Maka suci dapat berkaitan dengan iman. Perhatikan ketegasan Nabi dalam hadisnya di bawah ini,
اْلإِسْلاَمُ نَظِيْفٌ لاَيَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلاَّ كُلَّ نَظِيْفٍ فَتَنَظَّفُواْ
Islam itu agama bersih, tidak akan masuk surga kecuali orang-orang yang bersih, maka bersihlah kamu selalu. (HR. At-Tirmizi).
Di dalam hadis ini mencakup kebersihan inderawi dan hukmi, seperti bersih mulut dari cakap kotor, bersih perut dari memakan yang haram, bersih iman dari syirik dan kufur, bersih hati dari dengki dan ria, bersih dari segala yang kotor. Sementara suci ialah; suci dari najis berat, sedang dan ringan, suci dari hadas besar dan hadas kecil. Maka suci itu, betul-betul separuh iman.