Iman Bertambah dan Berkurang


Ulama salaf al-shâlih, ahl al-sunnah dan muktazilah sependapat bahwa iman seseorang dapat bertambah dan dapat berkurang (yazîdu wa yanqushu). Hal ini sejalan dengan faham bahwa iman itu ialah suatu rangkuman dari keyakinan dalam hati, pengucapan dengan lidah dan praktek melalui gerak anggota badan, sebagai bukti dari wujud keyakinan itu. Oleh karena itu, maka iman mempunyai cabang-cabang, sehingga dapat bertambah dan berkurang. Di antara ayat Al-Quran dan hadis Nabi saw yang menyinggung kondisi iman antara lain ialah,

إنمَّاَ الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ إِذاَ ذكُرَ اللهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَإِذاَ تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آَياَتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمْاَناً وَّعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلوُنَ

Orang yang beriman hanya orang yang bila disebutkan nama Allah kepada mereka, gemetarlah hati mereka, dan bila dibacakan kepada mereka ayat Al-Quran maka bertambahlah iman mereka dan kepada Tuhan mereka berserah diri. (QS. Al-Anfâl : 2).

 

Selanjutnya Allah Swt juga berfirman,

الَّذِيْنَ قاَلَ لَهُمُ الناَّسُ إِنَّ الناَّسَ قَدْ جَمَعوُاْ لَكُمْ فاَخْشَوْهُمْ فَزاَدَهُمْ إِيمْاَناً وَّقاَلوُاْ حَسْبُناَ اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ

Orang-orang (yang mentaati Allah dan rasulNya) yang kepada mereka ada orang yang berkata, sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukanuntuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka. Maka perkataan itu menambahkan iman mereka dan mereka menjawab, cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung. (QS. Ali Imrân : 173).

 

Firman Allah Swt yang lain,

هُوَ الَّذِيْ أَنْزَلَ السَّكِيْنَةَ فِيْ قُلُوْبِ المْؤُمِنِيْنَ لِيَزْداَدوُاْ إِيمْاَناً مَعَ إِيمْاَنِهِمْ

Dialah (Allah) yang telah menurunkan ketenangan di dalam hati orang mukmin, supaya bertambah keimanan mereka, di samping keimanan mereka (yang telah ada). (QS. Al-Fath : 4).

 

Dari ketiga ayat ini, tampak bahwa Allah Swt juga mengakui adanya iman yang bertambah dan iman yang berkurang. Selanjutnya Rasul saw bersabda,

الإِيماَنُ بِضْعٌ وَسَبْعُوْنَ شُعْبَةٌ, أَعْلاَهاَ قَوْلُ لاَإِلَهَ إِلاَّاللهُ وَأَدْناَهاَ إِماَطَةُ اْلأَذىَ عَنِ الطَّرِيْقِ وَالْحَياَءُ شُعْبَةٌ مِّنَ اْلإِيمْاَنِ

Iman itu lebih dari tujuh puluh tujuh cabang (77), yang paling tinggi ialah ucapan Lâ Ilâha Illa Allâh, dan yang paling rendah menghilangkan duri dari jalan, sedangkan malu itu satu cabang dari cabang iman. (HR. Bukhari Muslim)

 

Selanjutnya Rasul saw bersabda,

مَنْ رَأىَ مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِساَنِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ فَذاَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيمْاَنِ

Siapa yang melihat (mengetahui) kemunkaran maka hendaklah ia cegah dengan tangannya (kekuasaannya), kalau juga tidak mampu maka dengan hatinya dan yang demikian itu adalah selemah-lemah iman. (HR. Muslim)

 

Dari kedua hadis ini dapat diambil kesimpulan, bahwa iman itu ada yang tinggi (kuat atau tebal) dan ada yang rendah (lemah atau tipis). Dengan kata lain, iman juga naik, turun atau bertambah dan berkurang. Bahkan ada yang hilang sama sekali. Seperti sabda Rasul saw berikut ini,

لاَ يُؤْمِنُ الزَّانِيُ حِيْنَ يَزْنيِ

Tidak ada iman orang yang sedang melakukan zina. (HR. Muslim).

 

Artinya, iman seseorang yang sedang melakukan zina tercabut dari hatinya. Karena itu, para ulama mengatakan, saat itu imannya ada di atas kepalanya, bila ia saat itu mati, maka dihukum kafir. Namun bila ia mati setelah berbuat zina, maka dihukum fasiq, karena boleh jadi imannya telah kembali ke dalam hatinya. Berdasarkan ini semua, maka kondisi iman relatif, dapat bertambah dan dapat berkurang, atau bahkan terkikis habis.