Allah Swt berfirman,
وَبَشِّرِ الصَّابِرِيْنَ الَّذِيْنَ إِذاَ أَصاَبَتْهُمْ مُصِيْبَةٌ قاَلوُاْ إِناَّ للهِ وَإِناَّ إِلَيهِ راَجِعُوْنَ, عَلَيْهِمْ صَلَواَتٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ اْلمُهْتَدُوْنَ
Dan gembirakanlah orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang bila ditimpa malapetaka, dia mengucapkan Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji’ûn (kami milik Allah dan kami kembali kepadaNya). Merekalah orang-orang yang mendapatkan ampunan dan rahmat dari Tuhannya dan mereka pulalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk. (QS. Al-Baqarah : 155-157).
Sabar ialah tabah, tahan, dapat mengendalikan emosi dan tidak mengeluh. Orang yang sabar adalah orang yang dikasihi Allah. Sabar juga sebagian dari cabang iman. Perhatikan ayat berikut ini,
وَاللهُ مَعَ الصَّابِرِيْنَ
Dan Allah bersama dengan orang-orang yang sabar. (QS. Al-Baqarah : 249)
Sabar itu memang berat, apalagi sabar dalam nikmat, sabar ketika ada kesempatan atau kemampuan membela atau berbuat maksiat. Artinya, sabar dalam mengikuti atau menempuh hukum-hukum Allah dan rasulNya. Pepatah Arab menyatakan,
الصَّبْرُ كَالصِّبْرِ مُرٌّ فِيْ مَذَاقَتِهِ لَكِنَّ عَواَقِبَهُ أَحْلىَ مِنَ الْعَسَلِ
Sabar itu laksana empedu (pahit rasanya), tetapi lebih manis dari madu khasiatnya (efeknya).