Rasulullah saw bersabda,
قاَلَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم, يَاأَباَ هُرَيرَةَ اْنصُرْ أَخاَكَ وَاستُرْ عَلَيهِ قَبلَ أَنْ يُّرْفَعَ إِلىَ السُّلْطاَنِ فِيْ حَدٍّ مِّنْ حُدُوْدِ اللهِ, فَإِنْ رُفِعَ إِلىَ السُّلْطاَنِ فَإِياَّكَ أَن تُباَشِرَ لَهُ بِنَفْسِكَ وَماَلِكَ.
Rasulullah saw bersabda, wahai Abu Hurairah tolonglah saudaramu yang teraniaya dan tutupilah atasnya, sebelum dia diajukan kepada pemerintah untuk diadili tentang had (hukuman yang telah ditetapkan kepadanya) dari hudud Allah. Maka sesungguhnya bila telah diajukan, maka jauhilah dia dengan dirimu dan dengan hartamu. (HR. Ibn Majah).
Maksudnya tolonglah ia sebelum diadili karena dia teraniaya. Dalam hadis lain dinyatakan oleh Rasulullah saw,
مَنْ فَرِجَ عَنْ مُؤْمِنٍ مَغْمُوْمٍ أَوْ أَعاَنَهُ مَظْلُوْماً غُفِرَلَهُ.
Barang siapa yang melapangkan seorang mukmin yang dalam kebingungan atau menolong mukmin yang teraniaya, niscaya diampuni dosa-dosanya. (HR. al-Tirmizi).
Teraniaya atau dizalimi seperti tertipu janji, digiring orang kependeritaan, dirongrong atau diperas orang lain, ditipu dan lain-lain, yang sifatnya penganiayaan, baik fisik, material, martabat, harga diri, seperti difitnah. Perhatikan sabda Rasulullah saw berikut ini,
واَللهُ فِيْ عَوْنِ عَبْدِهِ ماَداَمَ الْعَبْدُ فِيْ عَوْنِ أَخِيْهِ
Dan Allah Ta’ala tetap menolong hambaNya, selama hambanya menolong saudaranya (baik yang teraniaya ataupun yang tidak). (HR. Bukhari).