Setiap amal ibadah ada ruhnya, dan ruh amal ibadah adalah niat, sedangkan ruh niat ialah ikhlas, dan ruh ikhlas ialah Lillâhi Ta’âla. Tidak mengharap puji atau pahala, itulah ikhlas. Allah Swt menyatakan,
قُلْ إِنَّ صَلاَتِيْ وَ نُسُكِيْ وَمَحْياَيَ وَمَماَتيِ للهِ رَبِّ الْعاَلمَيْنَ
Katakanlah, sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku, hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. (QS. Al-An’âm : 162).
Orang yang ikhlas, tidak kecewa dari perbuatannya karena dia tidak mengharapkan pujian dan sanjungan. Sekaligus ia malah pandai bersyukur bila dipuji atau disanjung orang lain. Dia selalu mengucap alhamdulillâh sebagai tanda terima kasih, karena dia tahu betul bahwa hidup ini untuk mengabdikan diri. Allah Swt menyatakan,
وَماَ أُمِرُوْا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا اللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّينَ
Dan mereka itu sebenarnya tidak diperintahkan melainkan untuk beribadah kepada Allah setulusnya dengan tekun dan patuh. (QS. Al-Bayyinah : 5).