Percaya kepada Takdir Allah Ta’ala


Artinya mempercayai dan meyakini bahwa ketentuan baik dan buruk itu adalah wewenang Allah Ta’ala. Oleh karena itu, dengan sebab iman, ta’at dan amal sholeh akan memperoleh keuntungan. Sebaliknya, dengan sebab kufur, maksiat dan perbuatan jahat akan memperoleh keburukan. Tegasnya, yang berbuat itu adalah manusia, sedangkan yang menciptakan perbuatan dan orangnya adalah Allah Ta’ala. Maka baik dan buruk itu jelas dengan ketentuanNya. Kita wajib percaya bahwa segala sesuatu yang terjadi dan yang akan terjadi, semuanya itu menurut ketentuan Allah sejak azali. Namun kita tidak dapat mengetahuinya. Oleh karena itu, segala sesuatu terjadi dengan qudrat dan iradatNya dan sesuai dengan qadha dan qadarNya. Sedangkan kata kebetulan pada hakikatnya tidak ada, perhatikan sabda Rasulullah saw berikut ini,

كُلٌّ مُيَسَّرٌ لمِاَ خُلِقَ بِهِ

Semua dimudahkan Allah untuk mengikuti takdirNya.

(HR. al-Tirmizi)

Maksudnya, bila seseorang itu telah ditakdirkan Allah nasibnya buruk pada azali, maka dimudahkan kepadanya pekerjaan yang mengantarkannya kepada nasib yang dimaksud. Namun bila suratannya pada azali berbahagia, maka ada-ada saja jalan yang mudah baginya menuju kebahagian tersebut.