Arti ucapan tersebut adalah Tidak ada tuhan yang patut disembah kecuali Allah. Maksudnya, perbanyaklah mengucap zikir kalimah al-thayyibah ini dengan memahami artinya sepenuh hati. Rasulullah saw menyatakan,
قاَلَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم, جَدِّدُوْا إِيْماَنَكُمْ, قِيْلَ, يَارَسُوْلَ اللهِ كَيفَ نُجَدِّدُ إِيْمَانَناَ ؟ قاَلَ, أَكْثِرُوْا مِنْ قَوْلِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ.
Rasulullah saw bersabda, perbaharuilah imanmu, lalu Rasul saw ditanya para sahabat, bagaimana caranya kami memperbaharui iman kami ?, lalu Rasul saw bersabda, perbanyaklah mengucapkan Lâ Ilâha Illa Allâh. (HR. Ahmad).
Kalimah al-Thayyibah ini merupakan puncak iman dan sekaligus sebagai pondasi dan landasan utama terhadap aqidah, syari’ah dan manhaj (cara) hidup seorang muslim. Allah Ta’ala di dalam Al-Quran menggambarkan kalimah al-thayyibah (tauhid) ini sebagai pohon yang kokoh. Sedangkan amal shaleh yang didorong oleh makna kalimah ini sebagai cabang dan buahnya. Perhatikanlah firman Allah berikut ini,
أَلَمْ تَرىَ كَيفَ ضَرَبَ اللهُ مَثَلاً كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصلُهاَ ثاَبِتٌ وَفَرْعُهاَ فِي السَّماَءِ
Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimah al-thayyibah seperti pohon yang baik, akarnya teguh (dibumi) dan cabangnya (menjulang) di langit. (QS. Ibrâhîm : 24).
Kalimah al-thayyibah yang dimaksud adalah Lâ Ilâha Illa Allâh, terhunjam di dalam kalbu setiap mukmin, yang mengakar teguh dan kokoh ke sukma dan jiwanya. Sedangkan yang dimaksud dengan cabangnya ialah amal shaleh sebagai jelmaan kalimah al-tauhid itu, yang pahalanya naik ke langit disimpan di sisi Allah, seperti firmanNya,
إِلَيْهِ يَصْعُدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ.
KepadaNyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal shaleh dinaikanNya. (QS. Fâthir : 10).
Akhirnya penjelasan cabang iman bagian yang pertama ini, ditutup dengan sebuah sabda Nabi saw dalam riwayat Turmuzi, bahwa barang siapa yang akhir kalamnya (ketika menjelang mati) Lâ Ilâha Illa Allâh niscaya ia langsung masuk surga.