I’tikaf


I’tikaf ialah berdiam di mesjid untuk menghampirkan diri kepada Allah (taqarrub). Kegiatan I’tikaf utamanya adalah zikir, menghayati kebesaran Allah, beribadah, munajat, berdo’a, membaca Al-Quran dan lain-lain. Yang sifatnya menghampirkan diri kepada Allah, secara diam-diam, karena doa yang pelan itu lebih didengar Allah. Rasulullah saw bersabda,

إِرْتَعَوُاْ عَلىَ أَنْفُسِكُمْ فِي الدُّعاَءِ فَإِنَّكُمْ لاَ تَدْعُوْنَ أَصَمَّ وَلاَ غاَئِباً إِنَّكُمْ تَدْعُوْنَ سَمِيْعاً قَرِيْباً مُجِيْباً

Lembutkan/rendahkan suaramu ketika berdoa, sesungguhnya kamu tidak meminta kepada yang tuli dan tak pernah alpa, sesungguhnya kamu berdoa kepada Zat yang Maha Mendengar, Maha Dekat dan lagi Maha mengabulkan doa. (HR. Muslim).

 

Ijma’ ulama menyatakan bahwa, I’tikaf itu disyari’atkan, bahkan ia sebagian cabang iman, karena Nabi saw, keluarga serta sahabatnya tidak alpa melaksanakannya. Adapun lamanya ialah sekurang-kurang diam, yang tenang (tuma’nînah). Imam Syafi’I berpendapat, sebaiknya satu hari satu malam. Bila di bulan ramadhan, tentu lebih panjang atau lebih lama dan lebih dituntut. Perhatikan hadis Rasul saw berikut ini,

كاَنَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَعْتَكِفُ فِيْ كُلِّ رَمَضاَنَ عَشْرَةَ أَياَّمٍ فَلَمَّا كاَنَ الْعاَمُ الَّذِيْ قَبِضَ فِيْهِ اعْتَكَفَ عِشْرِيْنَ يَوْماً

Adalah Nabi Muhammad saw beri’tikaf setiap ramadhan datang selama sepuluh hari, maka tatkala datang tahun kewafatannya, beliau I’tikaf selama dua puluh hari. (HR. Bukhari Muslim).

 

Kegiatan I’tikaf ini diteruskan sahabat dan istri-istri Rasulullah setelah wafatnya. Dengan I’tikaf, kita dapat memperhalus perasaan dan mempertajam mata hati.