Muhammad Zainul Hasan
UINSunan Kalijaga, Yogyakarta
acanhasan8@gmail.com
Abstract
Theologically from time to time the meaning of alms remains the same, but when it intersects with different traditions and cultures and places, alms will be applied in various ways. In Javanese society many alms practices are carried out, such as earth alms, sea alms, as a form of expression of gratitude, alms as a form to be rejected from reinforcements and so forth. Unlike what is done by the Kembang Kerang Daya community, Lombok, they do alms while doing the medication usually called beraspati. This article will examine how tradition beraspati is run and are there factors of religious texts that motivate patriot tradition. This study was analyzed using Max Weber’s theory of action; traditional action, instrumental action, effective action, value rationality action. From the theory of action, the researcher found that the tradition of the beraspati (1)has been carried on from generation to generation, (2)carrying out the tradition consciously and the tradition of the pigeon is the best way to channel alms, (3)shows that the offender has a strong emotional attitude with the healer (physician) thus forming a high confidence, (4)their servitude by surrendering after treatment and with alms they get blessings so that the wounded recover quickly.
Keywords: tradition, beraspati, Lombok medication
Abstrak
Secara teologis dari waktu-kewaktu makna sedekah tetap sama, namun ketika ia bersinggungan dengan tradisi dan budaya serta tempat yang berbeda, maka sedekah akan diaplikasikan dengan cara yang beragam. Masyarakat Jawa banyak menjalankan praktik sedekah yang beragam, seperti sedekah bumi, sedekah laut, sedekah sebagai bentuk ekspresi rasa syukur, sedekah sebagai bentuk agar tertolak dari bala dan lain sebagainya. Berbeda yang dilakukan oleh masyarakat Kembang Kerang Daya, Lombok, mereka melakukan sedekah ketika melakukan pengobatan, biasanya disebut beraspati. Artikel ini akan mengkaji bagaimana tradisi beraspati dijalankan dan adakah faktor dari teks keagamaan yang memotivasi tradisi beraspati. Penelitian ini dianalisis dengan menggunakan teori tindakan Max Weber; tindakan tradisional, tindakan instrumental, tindakan efektif, tindakan rasionalitas nilai. Dari teori tindakan tersebut peneliti menemukan bahwa tradisi beraspati (1) sudah dijalankan secara turun temurun, (2) melakukan tradisi tersebut secara sadar dan tradisi beraspati murapakan jalan terbaik menyalurkan sedekah, (3) menunjukkan bahwa pelaku memiliki emosional yang kuat dengan pejampi (tabib) sehingga membentuk keyakinan yang tinggi, (4) penghambaan mereka dengan berserah diri setelah berobat dan
dengan sedekah tersebut mereka mendapatkan barokah agar penyakinya lekas sembuh.
Kata Kunci: tradisi, beraspati, pengobatan Lombok.
Download full pdf: http://ejournal.uin-suka.ac.id/ushuluddin/Living/article/view/2177/1617