Hak Suami-Istri Perspektif Hadis (Pemikiran Hasyim Asy’ari dalam Ḍa’u al-Misbāh fī Bayān Ahkām anNikāh)


Nurul Afifah

IIQ An Nuur Yogyakarta
afifahbae20@gmail.com

ABSTRACT

This study discusses the husband-wife rights according to Hashim Ash’ari’s thought in a’u al-Misbāh fī Bayān Ahkām an-Nikāh. He relies on several and specific hadith related to the idea. This important study seeks to see the dynamic understanding of Indonesian nationalist figures who have widespread influence in society so his work played a part as a normative-theological reference in certain circles. This study uses hermeneutic theory, utilizing two approaches; both psychological (benefited for biographical review) and linguistic (benefited for reviewing his
work). The results of this study are: (1) Hashim Asyari’s understanding of marital rights can not be separated from three things: the background of life, the intellectual journey as well as the social context of that era. (2) the descriptions of his insights, relates to the texts of the hadith, may not function relevantly in terms of modern contextualization, require at least a re-interpretation to deal with current problems.

Keyword: husband-wife rights, Hasyim Asy‟ari, hermeneutic

ABSTRAK

Kajian ini membahas tentang hak suami-istri menurut pemikiran Hasyim Asy‟ari dalam karyanya a’u al-Misbāh fī Bayān Ahkām an-Nikāh yang tidak jarang ia sandarkan pada hadis-hadis tertentu. Kajian ini penting untuk melihat dinamika pemahaman tokoh nasionalis Indonesia yang pada masa itu memiliki pengaruh sangat kuat di masyarakat dan salah satu hasil karyanya yang sering dijadikan acuan normatif-teologis di kalangan tertentu. Penelitian ini menggunakan teori hermeneutika teoritis dengan dua pendekatan khusus yakni pendekatan psikologis guna mengkaji biografi dan pendekatan linguistik guna mengkaji karyanya. Hasil dari penelitian ini adalah: (1) pemahaman Hasyim Asyari tentang hak suami-istri yang dipaparkan dalam karyanya tidak bisa terlepas dari tiga hal: latar belakang kehidupan, perjalanan intelektual dan konteks sosial masa itu. (2) uraian-uraian pemahaman yang ia sandarkan pada teks-teks hadis, pada kenyataannya tidak semua masih relevan jika dikontekstualisasikan di masa sekarang sehingga karya tersebut atau sejenisnya tidak semestinya disakralkan, melainkan memerlukan re-interpretasi untuk menghadapi berbagai problematika sekarang.

Keyword: hak suami-istri, Hasyim Asy‟ari, hermeneutika

Download full pdf: http://ejournal.uin-suka.ac.id/ushuluddin/Living/article/view/1321/1187