Wakhid Hasyim
Pascasarjana FITK, Sunan Kalijaga Yogyakarta
hasyim.wakhid85@gmail.com
DOI: 10.14421/livinghadis.2018.1697
Abstract
In Islam, salat becomes one of the rituals that must be done by every individual. To be able to carry out continuously, discipline lead individuals. Ideally, the habit of praying has been done since the early age, therefore, parents often invite their children to perform prayers together in order to teach them a habituation. Obstacles felt by parents when they ask to pray in a congregation in the mosque, where children mostly active and rowdy, they may disrupt the concentration of other worshipers. Such places then “banned”, either directly or indirectly, small children joining the congregational prayers in the mosque. This raises the emergence of child-friendly mosque, some muslims hold room for children to love the mosque. It is necessary to trace the source of reference to this issue. Based on the search, there are some traditions that show the participation of children in the congregational prayers in the mosque. Based on the analysis of sanad and matan hadis intended, it can be concluded that the Prophet ever allowed children to participate in the congregational prayers in the mosque. While in psychology’s view, habituation as a child affects the later adulthood. Since violence in children – both physical and verbal – in reproving a child, when doing noisy in the mosque, may affects a bad impact in the long run, it better to be outlawed. As a result of this consciousness, some places have provided space for children to be able to perform activities in the mosque.
Keywords : Hadith; children; children friendly mosque
Abstrak
Dalam agama Islam, salat menjadi salah satu ritual yang wajib dilaksanakan oleh setiap individu. Untuk bisa melaksanakannya secara kontinu setiap hari, diperlukan kedisiplinan. Idealnya, pembiasaan salat sudah dilakukan semenjak usia dini. Oleh karena itu, orang tua sering kali mengajak anaknya melaksanakan salat dengan tujuan mengajarkan pembiasaan. Kendala dirasakan orang tua ketika ingin mengajak anaknya salat berjamaah di masjid. Anak-anak yang aktif dan gaduh bisa mengganggu konsentrasi jamaah lain ketika melaksanakan salat. Beberapa tempat kemudian “melarang”, baik secara langsung ataupun tidak, anak kecil ikut salat berjamaah di masjid karena mengganggu. Hal ini menimbulkan munculnya fenomena masjid ramah anak. Mengajak umat Islam untuk memberikan ruang bagi anak-anak agar mencintai masjid. Perlu kiranya dirunut sumber rujukan mengenai permasalahan ini. Berdasarkan penelusuran, terdapat beberapa hadis yang menunjukkan ikut sertanya anak-anak dalam salat berjamaah di masjid. Berdasarkan analisis mengenai sanad dan matan hadis dimaksud, dapat disimpulkan bahwa Rasulullah pernah memperbolehkan anak-anak ikut serta dalam jamaah salat di masjid. Dalam pandangan psikologi, pembiasaan ketika kecil memberikan dampak pada masa dewasanya nanti. Kekerasan pada anak -baik fisik maupun verbal- dalam menegur seorang anak ketika berbuat gaduh di masjid, baiknya tidak dilakukan. Karena, memiliki dampak kurang baik dalam jangka panjang. Untuk menyikapinya, beberapa tempat telah memberikan ruang bagi anak untuk bisa melakukan kegiatan di masjid.
Kata kunci: hadis, masjid ramah anak, psikologi perkembangan
Download full pdf: http://ejournal.uin-suka.ac.id/ushuluddin/Living/article/view/1697/1390