Siska Helma Hera
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Siskahelmahera59@gmail.com
Abstract
Criticism of the hadith will always appear, even though the scholars have agreed that the hadith is valid. This can be seen from the Sahih Bukhari book, which has been agreed by the ulama’ as a valid hadith book, but still received criticism from an orientalist named Ignaz Goldziher. Ignaz revealed that not all hadith listed in Sahih Bukhari are authentic, some of them are dhaif and maudhu’. In addition, Ignaz criticized the method used by Imam al Bukhari in researching hadith. According to him, Imam al Bukhari only focused on sanad and forgot the matan. Ignaz’s criticism led to the conclusion that the traditions contained in Sahih Bukhari were not authentic from the Prophet Muhammad. According to him, these traditions were the result of fabrication by the generations after the Prophet. This conclusion is also corroborated by the reason for the codification of the hadith that occurred long after the Prophet generation. Responding to Ignaz’s criticism, Musthofa al Azami (Muslim scholar) revealed that all of Ignaz’s criticisms were baseless and could not be validly established as truth.
Keywords: Hadith Criticism, Ignaz Goldziher, Sahih Bukhari’s Book, Musthofa al Azami, Orientalists.
Abstrak
Kritik terhadap kitab hadis akan selalu muncul, walaupun para ulama sudah bersepakat bahwa kitab hadis tersebut Sahih. Hal ini bisa dilihat dari kitab Sahih Bukhari yang telah disepakati jumhur ulama sebagai kitab hadis yang sahih, tetap mendapat kritikan dari orientalis bernama Ignaz Goldziher. Ignaz mengungkapkan bahwa tidak semua hadis yang tercantum dalam Sahih Bukhari merupakan hadis sahih, sebagian darinya bahkan termasuk hadis palsu. Selain itu, Ignaz mengkritik metode yang digunakan Imam al Bukhari dalam meneliti hadis. Menurutnya, Imam al Bukhari hanya berfokus pada sanad dan melupakan matan hadis. Kritikan Ignaz mengantarkan pada kesimpulan bahwa hadis-hadis yang terdapat Bukhari tidak otentik berasal dari Nabi Muhammad. Menurutnya, hadis-hadis tersebut merupakan hasil fabrikasi (buatan) generasi-generasi setelah Nabi. Kesimpulan tersebut juga dikuatkan dengan alasan masa pengkodifikasian hadis yang terjadi jauh setelah nabi wafat. Menanggapi tuduhan Ignaz, Musthofa al Azami (sarjana muslim) mengungkapkan bahwa seluruh tuduhan Ignaz tidak berdasar dan tidak dapat valid ditetapkan sebagai sebuah kebenaran.
Kata Kunci: Kritik hadis, Ignaz Goldziher, Kitab Sahih Bukhari, Musthofa al Azami, orientalis.
Download full pdf: http://ejournal.uin-suka.ac.id/ushuluddin/Living/article/view/2310/1712