THE DIALECTIC OF HADITH IN FIDYAH TRADITION IN INDRAMAYU


Nurkholis Sofwan

STAI Nurul Iman Parung Bogor
nurkholis.sofwan12@yahoo.com

Abstract

This article describes the dialectic of hadith in fidya tradition in Indramayu. The doctrine of fidya had generated controversies among Muslims in Indramayu, especially the fidya for obligatory daily prayers. However, there are groups of Muslim in Indramayu who believe that fidya is of Islamic teachings a Muslim must observe in his/her daily life. Through observation, interviews, and documentation, also employing the phenomenological and ethnographic perspective, this article gets closer to the tradition and finds that the hadith is seen as a form of iḥtiyāṭ (being careful) with regard to the obligatory prayers and fasting that are yet performed by the death (limited to familial related individuals). This tradition is carried out by giving rice or certain amount of money to the poor, with or without any specific rituals. This brings about some impacts, one of which is the assumption that the tradition serves as a means to help each other, resulting in the fostering of harmony among the society members.

Keywords: Living Hadith, Fidyah Tradition, Prayers, Fasting, Indramayu, Iḥtiyāṭ.

Abstrak

Tulisan ini mendeskripsikan dialektika hadis dalam tradisi fidyah di Indramayu. Doktrin tentang fidyah masih menimbulkan kontroversi yang cukup sengit di tengah masyarakat Indramayu, khususnya fidyah shalat, karena terdapat pro dan kontra. Meski demikian, sebagian masyarakat Indramayu meyakini bahwa tradisi fidyah merupakan ajaran Islam. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif-deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Dengan pendekatan fenomenologi dan etnografi, penelitian ini menyimpulkan bahwa hadis dalam tradisi fidyah di Indramayu dipahami sebagai bentuk iḥṭiyāṭ (sikap hati-hati) terhadap shalat dan puasa yang pernah ditinggalkan oleh kerabat yang meninggal. Tradisi fidyah ini dilakukan dengan membagikan beras atau uang kepada masyarakat, baik melalui ritual khusus maupun secara langsung. Implikasi dari tradisi ini di antaranya yaitu diyakini sebagai pengganti utang shalat dan puasa mayyit, dimanfaatkan sebagai sarana untuk saling memberi kepada sesama, serta mampu menguatkan keharmonisan antar warga.

Kata Kunci: Living Hadis, Tradisi Fidyah, Shalat, Puasa, Indramayu, Iḥṭiyāṭ.

Download full pdf: http://ejournal.uin-suka.ac.id/ushuluddin/Living/article/view/2337/1740