Abstract
The understanding of hadith is so far still dominated by hadith scholars with various methodologies and approaches that have been standardized in conducting studies on the hadith. Understanding of hadith is not only performed by hadith scholars but also by Sufism scholars. One of the applications in understanding hadith by Sufism scholars is done through poetry media. One of the figures included in this category is Hamzah Fansuri that can be seen from his works, One of which is the “Syair Perahu” (the boat poem). Syair Perahu loads hadith contents such as faith, knowledge, preparing charity towards the afterlife, Barzakh eschatology, and tawhid values. Syair Perahu is full of signs used as symbols in conveying prophetic messages, such as boats, merchants, sea, islands, and so on. To find the content of the meaning contained in the Syair Perahu, the writer will apply Charles S. Peirce’s semiotic theory. The results of this study found that literature, in this case Syair Perahu,
became a medium to convey meaning understood by interpretant. This study also found the tendency of the Sufis represented by Hamzah Fansuri towards hadiths that have eschatological nuances. Hamzah Fansuri’s understanding of the hadith in the Syair Perahu rejected the assumption of some people that his Sufism understanding deviated from correct understanding. Through the study of semiotics, Hamzah Fanzuri used the type of icon and index signs by using ligisign representamen, which indicated that he maintains the principles of meaning by paying attention to signs close to the intended meaning in the text of the hadith.
Keyword: Understanding of Hadith, Sufism Scholars, Syair Perahu, Semiotics.
Abstrak
Pemahaman hadis sejauh ini masih didominasi oleh ulama hadis dengan berbagai metodologi dan pendekatan yang telah baku dalam melakukan kajian terhadap hadis. Pemahaman hadis tidak hanya dilakukan oleh ulama hadis saja, akan tetapi juga dilakukan oleh ulama tasawuf. Pengaplikasian pemahaman hadis ulama tasawuf dilakukan salah satunya dengan menggunakan media syair. Salah satu tokoh yang termasuk ke dalam kategori ini ialah Hamzah Fansuri yang dapat dilihat di dalam karya-karyanya, salah satunya adalah syair perahu. Di dalam syair perahu terkandung muatan-muatan hadis seperti keimanan, ilmu, mempersiapkan amal menuju alam
akhirat, eskatologi alam barzah, dan nilai-nilai tauhid. Syair perahu sarat dengan tanda-tanda yang dijadikan sebagai simbol dalam menyampaikan pesan-pesan kenabian, seperti misalnya perahu, anak dagang, laut, pulau, dan lain sebagainya. Untuk mencari muatan makna yang terdapat di dalam syair perahu maka penulis akan menggunakan teori semiotika Charles S. Peirce. Hasil dari penelitian ini menemukan bahwa sastra, dalam hal ini syair perahu, menjadi media untuk menyampaikan makna yang dipahami oleh interpreter. Dalam penelitian ini juga menemukan kecenderungan kaum sufi yang direpresentasikan oleh Hamzah Fansuri terhadap hadis-hadis yang bernuansa eskatologis. Pemahaman Hamzah Fansuri terhadap hadis dalam Syair Perahu menolak anggapan beberapa kalangan bahwa pemahaman sifustiknya menyimpang dari pemahaman yang benar. Melalui kajian semiotika, Hamzah Fanzuri menggunakan jenis tanda icon dan index dengan menggunakan representamen ligisign yang menandakan bahwa ia mempertahankan kaidah-kaidah dalam pemaknaan dengan memperhatikan petanda yang mendekati makna yang ditujua pada teks hadisnya.
Keywords : Pemahaman Hadis, Ulama Tasawuf, Syair Perahu, Semiotika.
Download full pdf: http://ejournal.uin-suka.ac.id/ushuluddin/alquran/article/view/2043/1602