Sholahuddin Zamzabela & Indal Abror
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
196808051993031007@uin-suka.ac.id
DOI : 10.14421/livinghadis.2019.1936
Abstract
At the end of the second century hijriah, when the Islamic world was at peace with those who rejected the sunnah, either whole or the wahid, the Imam Shafi’i appeared as a defender. The word al-wahid in the book of al-Risalah is the word that originated from one person to another until the end of the Prophet or the end of the Prophet. In later development of the Ahad news or better known as the Hadith Ahad is better known in the study of `ulumul hadith with a slightly different sense of the amount of history referred to in each term. Ahad is interpreted to be more than three but not to the degree of mutawattir, while Imam Shafi`i interpreted them as narrated by one transmitter. However, they have the same idea that the khabarul wahid and the khabarul ahad do not reach the degree of mutawattir. In relation to the definition of al-wahid as an excuse, al-Shafi’s criteria are strict and complete criteria. Ancient scholars and hadiths only required that the history of the Qur’an be accepted without any other conditions. The terms set by these Sāfi-Slavs seem to be the terms still used by these adult Hadith scholars with various developments.
Keywords : Khabar al Wahid, Imam Syafi`i, ar-Risalah.
Abstrak
Pada akhir abad kedua hijriah, ketika dunia Islam diramaikan dengan golongan yang menolak sunah, baik keseluruhan ataupun yang wahid saja, Imam Syafi’i tampil sebagai seorang yang membela dan mempertahankan khabar al-wahid. Adapun yang dimaksud dengan khabar al-wahid dalam kitab al-Risalah adalah khabar yang berasal dari seseorang dari seseorang yang lain hingga berakhir kepada Nabi saw atau berakhir kepada selain Nabi saw. Pada perkembangan selanjutnya khabar al- Ahad atau lebih dikenal dengan Hadis Ahad lebih dikenal dalam kajian `Ulumul hadis dengan pengertian yang sedikit berbeda yakni pada jumlah periwayat yang dimaksud pada masin-masing istilah. Ahad diartikan dengan jumlah yang lebih dari tiga tetapi tidak sampai derajat mutawatir, sementara Imam Syafi`i mengartikannya hanya diriwayatkan oleh satu orang periwayat, Walaupun demikian, keduanya mempunyai kesamaan bahwa khabarul wahid dan khabarul ahad tidaklah mencapai derajat
mutawatir. Dalam kaitannya dengan penetapan khabar al-wahid sebagai hujjah, kriteria kehujjahan yang ditetapkan al-Syafi’ merupakan kriteria yang cukup ketat dan lengkap. Para ulama fikih dan hadis sebelumnya, hanya mensyaratkan periwayat yang siqah dalam penerimaan khabar al-wahid tanpa ada syarat yang lain. Syarat yang ditetapkan oleh sl-Syafi’i ini tampaknya merupakan syarat yang masih digunakan oleh para ahli hadis dewasa ini dengan berbagai pengembangan.
Kata kunci : Khabar al Wahid, Imam Syafi`i, ar-Risalah.
Download full pdf: http://ejournal.uin-suka.ac.id/ushuluddin/Living/article/view/1936/1545