Muhammad Yusron
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
hm.yusron@uin-suka.ac.id
DOI : 10.14421/livinghadis.2019.1929
Abstract
The concept of khilafah and certain mass organizations that impose its ideology in the NKRI context makes the urgency of khilafah research very important. This is as done in the perspective of the hadith and its meaning in the present context. In the traditions, reported by several narrators of traditions which show that the only khilafah as a form of state is in the order of the khulafah al-rasidun. The form of government is adjusted to the interests of each country. As in the hadith that there are various forms of government that are mentioned in the hadith not only the khilafah but other forms namely mulkan ‘adhdhan (the kingdom of biting) and mulkan jabriyyah (dictatorial kingdom). The difference between the Khilafah government in the Khulafa a-rashidun period is that they were chosen by deliberation and not the lowest. In the hermeneutic perspective, the understanding of
the hadith about the khilafah must be returned to the full reading in its historical perspective and also understood in the present context. Thus, the current pattern of government is to follow a pattern of shared interests in a country with reference to historical reality.
Keywords: hadith, khilafah, hermeneutics
Abstrak
Bentuk pemerintahan khilafah dan ormas tertentu yang memaksakan ideloginya dalam kontkes NKRI menjadikan urgensi penelitian khilafah menjadi sangat penting. Hal ini sebagaimana dilakukan dalam perspektif hadis dan pemaknaannya dalam konteks sekarang. Dalam hadis-hadis yang diriwayatkan oleh beberapa periwayat, hadis yang menunjukkan bahwa satu-satunya khilafah sebagai bentuk negara adalah dalam tatanan masa pemerintahan khulafah al-rasidun. Bentuk pemerintahan disesuaikan dengan kepentingan masing-masing negara. Selain khilafah, terdapat beragam bentuk pemerintahan yangdisebut dalam hadis yaitu mulkan ‘adhdhan (kerajaan yang menggigit) dan mulkan jabriyyah (kerajaan diktator). Hal yang membedakan dengan pemerintahan khilafah pada masa khulafa a-rasyidun adalah mereka dipilih dengan musyawarah dan bukan turun-termurun. Dalam perspektif hermeneutika, pemahaman atas hadis tentang khilafah harus dikembalikan kepada pembacaan secara utuh dalam perspektif historisnya dan dipahami pula dalam konteks kekinian. Sehingga, pola pemerintahan saat ini adalah mengikuti pola berdasarkan kepentingan bersama dalam sebuah negara dengan merujuk pada kenyataan historis.
Kata Kunci: hadis, khilafah, hermenutika
Download full pdf: http://ejournal.uin-suka.ac.id/ushuluddin/Living/article/view/1929/1538