PENGARUH KONFLIK POLITIK TERHADAP STUDI HADIS PASCA PERANG ṢIFFĪN


Muhammad Anshori

STAI Darul Kamal Lombok Timur
anshori92@gmail.com
DOI: 10.14421/livinghadis.2018.1615

Abstract

This paper attemptsto explain the phenomenon of hadith studies during the Ṣiffīn war. In the history of Islamic civilization, conflict is always there, one factor that raises conflict is political associated with leadership issue. Even the first conflict occurred in Islam had it after the Prophet Muhammad died. This factor influenced relatively to the study of hadith. Islamic history has experienced “bitter notes” since many wars deployed many companions of the Prophet (ṣaḥābah). They, who are considered fair in the Hadith narration, seemed to have desire to rule, and for the sake of power, they were willing to fight each other. Despite various reasons of religious importance and doctrines, this historical accident has affected to even our recent study of the source. This was renewed after the occurrence of the al-fitnah kubrā, which culminated in the battle of Ṣiffīn between ‘Alī bin Abū Ṭālib and Mu’āwiyah ibn Abū Sufyān in 37 AH. Atleast after this war, the study of hadith experienced quite rapid development with the emergence of various kinds of the sect, group or current flow in Islam.

Keywords: Hadith Studies, Conflict, al-Fitnah al-Kubrā, Ṣiffīn War.

Abstrak

Tulisan ini berusaha menjelaskan fenomena kajian hadis sebelum dan setelah terjadi perang Ṣiffīn. Dalam sejarah peradaban Islam, konflik memang selalu ada, tentu dengan berbagai motif. Salah satu faktor yang memunculkan konflik adalah faktor politik atau yang biasa dikaitkan dengan masalah kepemimpinan. Bahkan konflik pertama kali terjadi dalam Islam adalah terkait kepemimpinan setelah Nabi Muhammad wafat. Faktor inilah yang memiliki pengaruh terhadap kajian hadis pada masa awal sejarah Islam. Meskipun pada masa Nabi Muhammad, sunnah sudah dicatat tetapi selalu saja ada problem yang perlu dikaji ulang. Sejarah Islam telah mengalami “catatan pahit” karena banyak terjadi perang, bahkan di kalangan sahabat sendiri. Sahabat yang dinilai adil dalam periwayatan hadis, nampaknya memiliki keinginan untuk berkuasa. Demi kekuasaan, mereka rela berperang meskipun dengan berbagai macam alasan dogma agama. Nampaknya, ini merupakan suatu kecelakaan sejarah yang tidak bisa dihindari. Kajian hadis pada masa sahabat cukup ketat sehingga tidak semua mereka bisa meriwayatkan hadis. Hal ini diperkat lagi setelah terjadinya al-fitnah kubrā, yang berpuncak pada perang Ṣiffīn antara ‘Alī bin Abū Ṭālib dan Mu’āwiyah bin Abū Sufyān pada tahun 37 H.

Kata Kunci: Studi Hadis, Konflik, al-Fitnah al-Kubrā, Perang Ṣiffīn.

Download full pdf: http://ejournal.uin-suka.ac.id/ushuluddin/Living/article/view/1615/1389