Hikmalisa
Prodi Sosiologi Agama, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
hikmalisa25@gmail.com
Abstract
Understanding common sense surrounding society where people act according to their interpretation toward hadith of the prophet as well Qur‟anic verses and command is an essential meaning of living hadith. This paper begins with new alternative of perspective for living hadith, since there are obvious possible interpretations toward a hadith within a complex society that lead to various acts. In addition to that, the different act will be analyzed by Bourdieu‟s theory of practice in order to see that the dynamic of practice in such society entail that complexity of interpretations. Female mutilation practice in Kuntu Darussalam village is the object of study in this paper, where majority of people has had perceived the practice asas an unquestioned Doxa for every individual, preached by Ulama repetitively. The latest agent plays assertively for his symbolic modal of the cultural village, unlike the secondary role (e.i. medical agent)who apprehensively stands for different habitus within the society.
Abstrak
Memahami realitas sosial (common sense) dalam masyarakat yang pada praktiknya melakukan tindakan berdasarkan pemahaman hadis-hadis Nabi SAW sebagai prioritas utama setelah al-Quran merupakan kajian living Hadis yang mulai banyak dikaji dewasa ini. Paper ini menunjukkan adanya pendekatan baru terhadap kajian living hadis, bahwa dalam masyarakat yang kompleks pembacaan terhadap hadis dapat berbeda-beda sehingga akan menghasilkan tindakan yang berbeda pula. Ditambah lagi adanya perbedaan pemahaman terkait tindakan masyarakat yang diyakini bersumber dari hadis tersebut Inilah kemudian teori Pierre Bourdieu tentang praktik sosial dalam masyarakat perlu diaplikasikan untuk melihat banwa adanya pergolakan dalam mengahasilkan suatu praktik di masyarakat yang memiliki perbedaanperbedaan tersebut, karna adanya suatu paham yang lebih mondiminasi dibandingkan pemahaman lainnya.Praktik khitan perempuan (female mutilation) di desa Kuntu Darussalam menjadi fokus penelitian di sini. Hasilnya, Mayoritas masyarakat memahami keharusan melakukan khitan sesuai dengan hadis Nabi SAW sebagai tatanan sosial dalam diri individu yang tidak dipertanyakan lagi, sudah mencapai Doxa Bourdieu meyebutnya. Hal itu sesuai dengan ajaran ulama dengan modal simboliknya sebagai orang yang berperan besar dalam menentukan kebijakan di desa Kuntu. Sedangkan tenaga medis memiliki modal yang minim dan sulit menunjukkan eksistensinya dalam masyarakat walaupun dia memiliki habitus yang berbeda.
Kata kunci: sunat perempuan, living hadist, habitus, field, modal, doxa
Download full pdf: http://ejournal.uin-suka.ac.id/ushuluddin/Living/article/view/1124/1026