Muhammad Anshori
Program Magister Studi Agama dan Filsafat,
Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam,
UIN Sunan Kalijaga
anshori92@gmail.com
Abstract
The study of sanad’s quality was so broad then implies to the existence of ittiṣāl and inqiṭā’ al-sanad. The muttaṣi al-sanad hadith might be claimed a probable ṣahih when it is examined with al-jarḥ wa al-ta’dīl. In line to that, the muttaṣi al-sanad might be also questioned about the linked riwayat to Nabi (marfū’), as there were also some hadith which linked the sanad to sahabat (mauqūf) or tabi’in (maqṭū’). And so does to the term fake hadith within ilmu al-Muṣṭalaḥ al-Ḥadīṡ which is called mauḍū’. This paper then starts to problematize why it is so important to study the level of fake hadith while at the same time a counter statement says that it came from a concept brought by former ulama and agreed by most today’s ulama. In another part, this paper argues that the term ittiṣāl al- sanad may be applied or contextualized in daily life, specifically within educational concern as long as academia within this study elaborate a broader scope, such as both matan and sanad field of study.
Abstrak
Kajian tentang kualitas sanad hadis memang sangat luas sehingga berimplikasi pada munculnya istilah ittiṣāl dan inqiṭā’al-sanad. Hadis yang memiliki sanad bersambung belum tentu sahih jika diuji dengan ilmu al-jarḥ wa al-ta’dīl. Selain itu, hadis yang sanadnya bersambung belum tentu bisa dikatakan periwayatannya sampai kepada Nabi saw. (marfū’), tetapi ada juga hadis yang sanadnya bersambung sampai kepada sahabat (mauqūf) dan tabi’in (maqṭū’). Demikian juga dengan istilah hadis palsu yang dalam Ilmu Muṣṭalaḥ al-Ḥadīṡ disebut mauḍū’. Makalah ini memulai dari pertanyaan mengapa perlu ada derajat hadis yang disebut palsu? Itu hanya istilah yang terdapat dalam kitab-kitab ulama terdahulu yang kemudian diwarisi secara turun temurun sampai sekarang. Bahkan semua istilah yang terkait dengan hadis merupakan kreasi atau hasil produk pemikiran manusia yang bisa dikritisi atau didiskusikan (qābilun lin niqāsy wa al-tagyīr). Selanjutnya istilah ittiṣālalsanad bisa diaplikasikan atau dikontekstualisasikan dalam kehidupan sehari-hari, atau lebih spesifiknya dalam dunia pendidikan (the world of education). Makalah ini selanjutnya mengkaji fungsi dari ittiṣālal-sanad. Akhirnya tulisan ini mengerucutkan bahasan pada perlunya pengembangan Studi Hadis yang tidak hanya terfokus pada sanad saja,
tetapi juga pada matan.
Kata Kunci: ittiṣāl al-sanad, kontekstualisasi
Download full pdf: http://ejournal.uin-suka.ac.id/ushuluddin/Living/article/view/1123/1025