Fungsi Pengajian dan Mujāhadah Kamis Wage bagi Komunitas Pesantren Sunan Pandanaran, Sleman, Yogyakarta


Mohamad Yahya

Prodi Ilmu Al-Qur’ān dan Tafsir (IAT)
Sekolah Tinggi Agama Islam
Sunan Pandanaran (STAISPA) Yogyakarta

Abstract

This artcle is part of anthropological research about Mujāhadah Kemis Wage in Pesantren Sunan Pandanaran, Sleman Regency, Yogyakarta. Having used partcipatory technic, interview, observaton, as well as documentation data, this research benefted fungsionalisme Bronislaw Malinowski theory for both descriptng and analyzing the data. Part of research result are the form of Mujāhadah kamis wage that consist of: (1) khatm al-Qur’ān (2) khatm alQur’ān prayer, (3) theological sermons, (4) recitaton of asmaul husna, (5) recitaton of ratbul addād, (6) recitaton of ‘ibādallah, (7) as well commemoraton of alawat during public endorsing. While according to  fungcionalism point of view, this public ritual congregaton entails several functons spread from religious dimension, to educaton, socio-politcal, up to sectarian ideology.

Abstrak

Makalah ini bagian dari penelitan sosial antropologis yang berkenaan dengan Mujāhadah Kemis Wage in Pesantren Sunan Pandanaran, Sleman Regency, Yogyakarta. Selain menggunakan tehnik partisipatoris, interview, observasi, dan juga data dokumentasi, penelitan ini menggunakan teori fungsionalisme Bronislaw Malinowski untuk melakukan deskripsi dan analisa data. Sebagai bagian dari hasil penelitan ini antara lain; bentuk dan menu dari Mujāhadah kamis wage terdiri atas: (1) khatm al-Qur’ān (Q.S. al-Dluhā s.d. al-Nās), (2) doa khatm al-Qur’ān, (3) sambutan/ ceramah agama, (4) pembacaan asmaul husna, (5) pembacaan ratbul addād (6) pembacaan kasidah ‘ibādallah, dan (7) bersolawat dengan bersalam-salaman. Menurut cara pandang fungsionalisme, ibadah jamaah ini memiliki beberapa fungsi yang tersebar dari dimensi religi, pendidikan, sosio-politik, hingga ideologi sektarian.

Kata Kunci: sistem Mujāhadah, paradigma fungsionalisme, struktur wirid

Download full pdf: http://ejournal.uin-suka.ac.id/ushuluddin/Living/article/view/1068/974