- Arti Hadits
Sabda Nabi SAW: Al Quran diturunkan dengan tujuh bahasa, setiap ayatnya ada makna yang tampak jelas dan ada makna yang tersembunyi.
- Arti Kata
ظهر : Tampak
بطن : Tersembunyi
- Penjelasan Kesulitan Hadits
Perkataan ini adalah majaz karena pada kenyataanya ayat itu tidak punya punggung dan perut, namun yang dimaksud bahwa ayat itu mempunyai arti zahir, yang tampak dan mempunyai arti batin, yang rahasia. Maka punggung disini bermakna tampak atau jelas sedang bermakna arti batin atau rahasia. Dan perkataan ini digunakan untuk ayat-ayat mutashabbih bukan ayat-ayat mubicam, karena sesungguhnya ayat-ayat mutashabbih itu adalah ayat-ayat yang tidak mempunyai makna zahir atau tampak atau jelas. Dalam ayat ayat muhkam adalah ayat-ayat yang tidak punya makna rahasia atau tersembunyi. Sedang ayat-ayat mutashabbih pemikiran yang tajam. Oleh karena itu itu para membutuhkan ulama lebih mengutamakan membuka ke-mubham-annya atau kesamarannya dan membicarakan ke-mu’jam-annya atau ketidakjelasannya.
- Lafadz Hadits ditinjau dari Segi Balaghahnya
Dalam hadits tersebut ada ungkapan isti’arah kinayah, karena ayat disamakan dengan binatang melata yang punya punggung dan perut. Adapun sesungguhnya pembicaraan kita dengan memakai “dabbah” binatang melata karena punggungnya itu kelihatan dan perutnya tersembunyi kemudian mushabbah bib-nya (الدبة) dibuang. Dan dilambangkan kepada binatang melata dengan sesuatu yang seharusnya adalah punggung dan perut. Sedangkan menetapkan punggung dan perut pada ayat adalah merupakan hayalan.
- Keterangan-keterangan Lainnya
Menurut Abu Ja’far al tahawi : maksudnya الظهر adalah arti yang tampak jelas sedang البطن adalah arti yang tersembunyi. Oleh karena itu manusia wajib mencari arti yang tampak dan tersembunyi untuk mengetahui halal dan haram. Hal ini merupakan amal ibadah kepada Allah.
Tak jauh beda dengan pendapat Abu Ja’far al Tahawi, al Qodi berpendapat : انزل أن على سبعة احرف لكل اية ظهر وبطن yang dimaksud سبعة ialah tujuh kata yang fasih yang dipakai oleh orang-orang Arab seperti Qurays, bahasa Hundail, bahasa Yaman, bahasa Bani Tamim, bahasa Daus, bahasa Hawazin, dan bahasa Bani al Harith.
Ada yang berpendapat سبعة احرف adalah سبعة معانى, tujuh arti yaitu ada yang menjatuhkan perintah, larangan, kasab, percontohan, janji, dan ancaman serta mauidhoh (Peringatan).
Sedangkan yang dimaksud الظهر adalah tampak takwilnya dan diketahui artinya. Yang dimaksud البطن adalah sesuatu yang tersembunyi tafsirannya dan sukar artinya. Pendapat الظهر yaitu tampak lafadznya البطن tersembunyi pemahamannya dan riwayatnya.
الظهر : Tampak turunnya yang mewajibkan iman
البطن : Tersembunyi kewajiban pelaksanaannya. Tidak ada sesuatu dari suatu ayat kecuali kewajiban dua perintah yang bersamaan dalam al Qur’an itu ada perintah dan larangannya.
Ada janji dan ancaman, ada nasehat serta ada kabar, dahulu dan yang akan datang dan pada masing-masing itu wajib diimani, membenarkan dan diamalkan. Adapun mengamalkan “perintah” dengan cara melaksanakan “larangan” dengan menjauhi, “janji” dengan senang, “ancaman” dengan benci, “nasehat” dengan menerima nasehat dan “contoh” dengan mengambil I’tibar dan pengalaman.
Ada juga yang berpendapat bahwa arti ialah membaca dan memahami seperti لكل والبطن “membaca”. Berdasarkan firman Allah ورتيل القران ترتيلا . Pada باطن adalah “memahami dan menutur” sebagaimana firman Allah كتاب انزلناه اليك مبارك ليدبروا اية , kemudian membaca itu dibarengi dengan belajar dan menghafalkan, Sedangkan memahami dengan membenarkan niat, mengagungkan kemudian serta memperbaiki tabiat.
Perlu diketahui bahwa سبعة احرف tersebut bukan dari semua kata-kata dalam suatu ayat dapat dibaca dengan tujuh bahasa tapi pada sebagian dari kata-kata dalam suatu ayat dapat dibaca dengan banyak bahasa untuk mempermudah bacaan.
Surat atau bacaan Alquran yang diturunkan memakai bahasa Jibril atau diturunkan dengan tujuh bahasa atau tujuh bacaan.
- Kualitas Hadits
Bila melihat dan meneliti pendapat al Nasa’i, bahwa Abu Bakar Ibn Abi Uways sebagai perowi yang doif maka sanad hadis itu doif. Tapi bila meneliti ternyata yang menyatakan thiqoh pada Abu Bakar lebih banyak maka ia adalah perowi yang thigoh. Begitu juga bila meneliti Muhammad Ibn Ajlan. Menurut Ibn Shaybah ia adalah sodoq maka sanad hadis ini adalah hasan. Namun, meninjau kembali ulama yang menyatakan thiqoh kepada Muhammad Ibn Ajlan lebih. banyak maka ia adalah perowi thiqoh, ternyata semua perowi perowinya adalah thiqoh maka sanad hadits itu adalah shohih apalagi bila melihat sanadnya muttasil dan matannya tidak bertentangan dengan Al-Quran, hadis yang lebih tinggi statusnya dan akal yang sehat maka hadis itu menjadi shohih.