Takhrij Hadis yang membahas tentang perempuan keluar tanpa mahram:
حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ عَنْ ابْنِ أَبِي ذِئْبٍ حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي سَعِيدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَحِلُّ لِامْرَأَةٍ تُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ تُسَافِرُ مَسِيرَةَ يَوْمٍ إِلَّا مَعَ ذِي مَحْرَم
Telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id dari Ibnu Abu Dzi`b Telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Abu Sa’id dari bapaknya dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhirat untuk mengadakan perjalanan sejauh sehari perjalanan kecuali disertai mahramnya.” (Muslim ; 2387).
Takhrij Hadis
Secara etimologis, kata takhrij berasal dari kata kharraja, yang berarti al-zuhur (tampak) dan al-buruz (jelas). Takhrij juga bisa berarti al-istinbat ( mengluarkan), al-tadrib ( meneliti) dan all-taujih ( menerangkan). Sedangkan menurut Mahmud al-Thahhan, takhrij memiliki arti ijtima amrain mutaadain fi syaiin wahid (kumpulan dua perkara yang saling berlawanan dalam satu masalah).
Adapun secara terminologis, takhrij adalah menunjukan tempat hadis pada sumber-sumber aslinya, di mana hadis tersebut telah diriwayatkan lengkap dengan sanadnya, kemudian menjelaskan derajatnya jika diperlukan.
Dalam melakukan takhrij al-Hadis secara garis besar mempunyai dua cara, agar memudahkan untuk sesorang melakukan takhrij, yaitu pertama, takhrij dengan cara konvensional. Maksudnya adalah melakukan takhrij dengan menggunakan kitab-kitab hadis atau kitab-kitab kamus. Kedua, takhrij al-hadis dengan menggunakan perangkat komputer melalui bantuan CD-ROM.
Adapun metode yang digunakan oleh peneliti daam mentakhrij hadis yaitu menggunakan perangkat computer melalui bantuan CD-ROM, dengan mengetahui atau mencara sebuah kalimat/lafal dari matan yang sedikit berlakunya. Sehingga menghasilkan atau menemukan empat belas hadis yang mengandung kalimat tersebut. Diantaranya :
Al-Tirmizi no. 1090
Abu Daud no.1465
Ibnu Majah no.2890
Ahmad no.7107,8133,8208,9103,9257,9364,9998,10170.
Imam Malik no.1550.
Al-Bukhari no.1026.
1.Bukhari no.1026
حَدَّثَنَا آدَمُ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ قَالَ حَدَّثَنَا سَعِيدٌ الْمَقْبُرِيُّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ.قال النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَحِلُّ لِامْرَأَةٍ تُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ أَنْ تُسَافِرَ مَسِيرَةَ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ لَيْسَ مَعَهَا حُرْمَة تَابَعَهُ يَحْيَى بْنُ أَبِي كَثِيرٍ وَسُهَيْلٌ وَمَالِكٌ عَنْ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
Telah menceritakan kepada kami Adam berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Dza’bi berkata, Said Al Maqbariy dari bapaknya dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu a berkata; Telah bersabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam; “Tidak halal seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk mengadakan perjalanan selama satu hari satu tanpa didampingi mahramnya”. Hadits ini diikuti pula oleh Yahya bin Abu Katsir, Suhail dan Malik dari Al Maqburiy dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. (Bukhari ;1026)
2.Tirmizi no.1090
حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ الْخَلَّالُ حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ عُمَرَ حَدَّثَنَا مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُسَافِرُ امْرَأَةٌ مَسِيرَةَ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ إِلَّا وَمَعَهَا ذُو مَحْرَمٍ قالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ
Telah menceritakan kepada kami Al Hasan bin Ali Al Khallal, telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Umar telah menceritakan kepada kami Malik bin Anas dari Sa’id bin Abu Sa’id dari Bapaknya dari Abu Hurairah berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak boleh seorang wanita melakukan perjalanan sehari semalam kecualibersama mahramnya.” Abu Isa berkata; “Ini merupakan hadits hasan sahih.(TIRMIDZI – 1090).
3.Abu Daud no.1465
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ الثَّقَفِيُّ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَحِلُّ لِامْرَأَةٍ مُسْلِمَةٍ تُسَافِرُ مَسِيرَةَ لَيْلَةٍ إِلَّا وَمَعَهَا رَجُلٌ ذُو حُرْمَةٍ مِنْهَا حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ وَالنُّفَيْلِيُّ عَن مَالِكٍ ح و حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ عُمَرَ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ الْحَسَنُ فِي حَدِيثِهِ عَنْ أَبِيهِ ثُمَّ اتَّفَقُوا عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَحِلُّ لِامْرَأَةٍ تُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ أَنْ تُسَافِرَ يَوْمًا وَلَيْلَةً فَذَكَرَ مَعْنَاهُ قَالَ أَبُو دَاوُد وَلَمْ يَذْكُرْ الْقَعْنَبِيُّ وَالنُّفَيْلِيُّ عَنْ أَبِيهِ رَوَاهُ ابْنُ وَهْبٍ وَعُثْمَانُ بْنُ عُمَرَ عَنْ مَالِكٍ كَمَا قَالَ الْقَعْنَبِيُّ حَدَّثَنَا يُوسُفُ بْنُ مُوسَى عَنْ جَرِيرٍ عَنْ سُهَيْلٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ نَحْوَهُ إِلَّا أَنَّهُ قَالَ بَرِيدً
Telah menceritakan kepada Kami Qutaibah bin Sa’id Ats Tsaqafi, telah menceritakan kepada Kami Al Laits bin Sa’d dari Sa’id bin Abu Sa’id dari ayahnya bahwa Abu Hurairah berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak halal bagi seorang wanita muslimah untuk bersafar sejauh perjalanan satu malam kecuali bersama dengan seorang laki-laki yang memiliki hubungan mahram dengannya.” Telah menceritakan kepada Kami Abdullah bin Maslamah dan An Nufaili dari Malik, dan telah diriwayatkan dari jalur yang lain: Telah menceritakan kepada Kami Al Hasan bin Ali, telah menceritakan kepada Kami Bisyr bin Umar, telah menceritakan kepadaku Malik dari Sa’id bin Abu Sa’id, Al Hasan dalam haditsnya berkata; dari ayahnya, kemudian mereka sama-sama dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: ‘Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir untuk bersafar satu hari satu malam. Ia menyebutkan maknanya. Abu Daud berkata; Al Qa’nabi dan An Nufaili tidak menyebutkan; dari ayahnya. Ibnu Wahb, serta Utsman bin Umar telah meriwayatkan dari Malik sebagaimana yang dikatakan Al Qa’nabi. Telah menceritakan kepada Kami Yusuf bin Musa dari Jarir dari Suhail dari Sa’id bin Abu Sa’id dari Abu Hurairah, ia berkata; Rasulullah shallAllahu wa’alaihi wa sallam bersabda: “ kemudian ia menyebutkan hadits seperti itu hanya saja ia berkata; selama. (Abu Daud ; 1465)
4. Ibnu Majah no. 2890
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا شَبَابَةُ عَنْ ابْنِ أَبِي ذِئْبٍ عَنْ سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَة أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَحِلُّ لِامْرَأَةٍ تُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ أَنْ تُسَافِرَ مَسِيرَةَ يَوْمٍ وَاحِدٍ لَيْسَ لَهَا ذُو حُرْمَةٍ
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah; telah menceritakan kepada kami Syababah dari Ibnu Abi Dzi`b dari Sa’id Al Maqburi dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak dibolehkan bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat untuk berpergian dalam perjalanan sehari tanpa disertai mahramnya.(Ibnu Majah ; 2890)
5. Malik no.1550
و حَدَّثَنِي مَالِك عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَحِلُّ لِامْرَأَةٍ تُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ تُسَافِرُ مَسِيرَةَ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ إِلَّا مَعَ ذِي مَحْرَمٍ مِنْهَا
Telah menceritakan kepadaku Malik dari Sa’id bin Abu Sa’id Al Maqburi dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, melakukan perjalanan selama sehari semalam kecuali bersama mahramnya.(Malik ;1550)
Skema Sanad Muslim

Kritik Sanad
Zuhair bin Harb
Nama : Zuhair bin Harb bin Syadad
Thabaqah : Kibar Tabi’ul Atba’
Kunyah : Abu Khaitsamah
Tempat Lahir : Baghdad
Wafat : 234 H
Guru-Gurunya
Ahmad bin Ishaq bin Zaid
Ishaq bin ‘Isa bin Najih
Hibban bin Hilal
Sa’id bin ‘Amir
Yahya bin Sai’id bin Furuh
Murid-Murid
Ahmad bin ‘Ali bin Sa’id
Fadli bin Kiyan bin Himad bin Zuhair
Muzfar bin Madrak
Yahya bin ‘Abdulah
Jarh wa Ta’dil
Yahya nim Mu’in : Tsiqah
Abu Hatim Ar-Razi : Shuduq
Al-Husen bin Fahmi : Tsiqah Tsabit
Al-Nasa’i : Tsiqah Ma’mun
Ibnu Hibban : Muttaqun Dhabit
Al-Khatbin : Tsiqah Tsabit Hafidz Muttaqun.
Yahya bin Sa’id
Nama : Yahya bin Sa’id bin Furukh
Thabaqah : Shaghir min Atba’
Kunyah : Abu Sa’id
Tempat Lahir : Bashrah
Wafat : 197 H
Guru-Guru
Abani bin Sham’ah
Al-Akhdhor bin ‘Ajlani
Isma’il bin Abi Khalid
Muhammad bin ‘Ajalani
Muhammad bin ‘Abdurrahman bin al-Mughirah bin al-Haris bin Abi Zi’bin
Murid-Murid
Ibrahim bin Muhammad bin Abdillah
Ishaq bin Ibrahim bin Mukhlad
Al-Hakim bin Mubarrak
Himad bin Harb bin Syadad
Jarh wa Ta’dil
Ibnu Mahdi : Tidak melihat kelasahan terhadap dia
Ahmad bin Hanba : ilaihi muntaha fi at-tatsbuti
‘Ali bin Madini : tidak pernah aku mihat orang yang lebih pintar dari dia
Abi Zar’ah Ar-Razi: Tsiqah al-Hafidz
Abu Hatim ar-Razi : Hujjatun Hafidz
A-Nasa’I : Tsiqah Tsabit
Ibnu Abi Zi’bin
Nama : Muhammad bin ‘Abdurrahman bin al-Mughirah bin al-Haris bin Abi Zi’bin
Thabaqah : Kibaru al-Atba’
Kunyah : Abu al-Haris
Tempat Lahir : Madinah
Wafat : 158 H
Guru-Guru
Abu Mu’tamar bin ‘Amru bin Rafi’
Ishaq bin Yazid
Al-Haris bin ‘Abdurrahman
Az-Zabruqat bin ‘Abdillah bin ‘Amru
Sa’id bin Abi Sa’id Kaisani.
Murid-Murid
Abu Bakr bin ‘Iyas bin Salim
Ishaq bin Sulaiman
Yahya bin Sa’id bin Farukh
Jarh wa Ta’dil
Ahmad bin Hanbal : Tsiqah Shuduq
Yahya bin Mu’in : Tsiqah
Al-Nasa’i : Tsiqah
Al-Khilal : Tsiqah
Sa’id bin Abi Sa’id
Nama : Sa’id bin Sa’id bin Kaisani
Thabaqah : Al-Wasathu min at-tabi’in
Kunyah : Abu Sa’id
Tempat Lahir : Madinah
Wafat : 123 H
Guru-Guru
‘Abdurrahman bin Mihran
Ishaq bin ‘Abdillah bin al-Haris Naufal
Kaisani
Murid-Murid
Ibrahim bin Fadli
Ishaq bin Abi al-Firati
Muhammad bin Abdirrahman bin al-Mughirah bin al-Haris bin Abi Zi’bin
Jarh wa Ta’dil
Ahmad bin Hanbal : Laisa bihi Ba’sa
‘Ali bin Madini : Tsiqah
Abu Zar’ah bin al-Razi : Tsiqah
Al-Nasa’i : Tsiqah
Abihi
Nama : Kaisani
Thabaqah : Min Kibaru at-Tabi’in
Kunyah : Abu Sa’id
Tempat Lahir : Madinah
Wafat : 100 H
Guru-Guru
Sa’id bin Maik bin Sunan bin Sunan bin ‘Ubait
Abdullah bin Wadi’ah bin Khidam
Uqbah bin Amir bin ‘Ais
Abdurrahman bin Shakhar
Murid-Murid
Tabit bin Qais
Sa’id bin Abi Sa’id bin Kaisani
Sahil bin Abi Shalih Zikwan
Farj bin Fadalih bin Nu’man
Jarh wa Ta’dil
Al-Nasa’i : Laba’sabih
Ibnu Hibban : Dzakarahu fi at-Tsiqah.
Abu Hurairah
Nama : Abdurrahman bin Shaghar
Thabaqah : Shahabi
Kunyah : Abu Hurairah
Tempat Lahir : Madinah
Wafat : 57 H
Guru-Guru
Abi bin Ka’ab bin Qais
Bashrah bin Abi Bashrah
Sa’id bin Malik bin ‘Ubaid
Murid-Murid
Ibrahim bin Isma’il
Abu Hakim
Abdullah bin Abdurrahman bin al-Haris
Kaisani.
Kesmipulan
Setelah melakukan takhrij dalam jalur sanad yang diriwayatkan oleh Muslim ini dapat disimpulkan bahwa secara kualitas sanadnya bernilai shahih. Sedangkan jika dinilai secara kuantitas sanadnya ini bernilai ahad masyhur.
Kritik Matan
Dalam mengkaji atau mengkritik sebuah matan hadis, disini penulis menggunakan metodenya al-Ghazali. Ada empat metode yang diberikan olh al-Ghazali dalam mengkritik sanad, diantaranya yaitu :
Pengujian dengan Al-Quran
Didalam al-Quran ada ayat atau dalil yang menjadi pendukung mengenai hadis tentang larangan permpuan keluar tanpa mahram, yaitu qur’an surah an-Nahl ayat 97. Yang bunyinya sebagai berikut.
من عمل صالحا من ذكر أوأنثي وهو مؤمن فلنحيينه,حياة طيبة ولنجزينهم أجرهم بأحسن ماكانوا يعلمون.
Artinya: “barang siapa yang mengerjakan amal soleh,, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.
Ayat diatas secara terang benderang memberikan keleuasan kepada laki-laki dan permpuan untuk aktif dalam berbagai kegiatan. Tidak ada perbedaan antara laki-laki dan permpuan dalam berkarir, yang membedakan hanyalah jnis pekerjaan ang disesuaikan dengan kodrat masing-masing. Islam membolehkan perempuan bekerja di luar rumah slahi permpuan bisa menempatkan dirinya sesuai dengan kodrat perempuannya.
Pengujian dengan hadis
حدثني محمد بن الحكم أخبرنا النضر أخبرنا إسرائيل أخبرنا سعد الطائي أخبرنا محل بن خليفة عن عدي بن حاتم قال بينا أنا عند النبي صلى الله عليه وسلم إذ أتاه رجل فشكا إليه الفاقة ثم أتاه آخر فشكا إليه قطع السبيل فقال يا عدي هل رأيت الحيرة قلت لم أرها وقد أنبئت عنها قال فإن طالت بك حياة لترين الظعينة ترتحل من الحيرة حتى تطوف بالكعبة لا تخاف أحدا إلا الله قلت فيما بيني وبين نفسي فأين دعار طيئ الذين قد سعروا البلاد ولئن طالت بك حياة لتفتحن كنوز كسرى قلت كسرى بن هرمز قال كسرى بن هرمز ولئن طالت بك حياة لترين الرجل يخرج ملء كفه من ذهب أو فضة يطلب من يقبله منه فلا يجد أحدا يقبله منه وليلقين الله أحدكم يوم يلقاه وليس بينه وبينه ترجمان يترجم له فليقولن له ألم أبعث إليك رسولا فيبلغك فيقول بلى فيقول ألم أعطك مالا وأفضل عليك فيقول بلى فينظر عن يمينه فلا يرى إلاجهنم وينظر عن يساره فلا يرى إلا جهنم قال عدي سمعت النبي صلى الله عليه وسلم يقول اتقوا النار ولو بشقة تمرة فمن لم يجد شقة تمرة فبكلمة طيبة قال عدي فرأيت الظعينة ترتحل من الحيرة حتى تطوف بالكعبة لا تخاف إلا الله وكنت فيمن افتتح كنوز كسرى بن هرمز ولئن طالت بكم حياة لترون ما قال النبي أبو القاسم صلى الله عليه وسلم يخرج ملء كفه حدثني عبد الله بن محمد حدثنا أبو عاصم أخبرنا سعدان بن بشر حدثنا أبو مجاهد حدثنا محل بن خليفة سمعت عديا كنت عند النبي صلى الله عليه وسلم
Hadis tersebut menjeaskan bahwa suatu masa ada seorang perempuan yang datang dari kota Hirah menuju Mekah sendirian tanpa merasa takut. Dengan demikian, hadis tentang larangan bepergian tanpa ditemani mahram tidak berlaku kekal, larangan tersebut hanya berlaku apabila tidak adanya keamanan. Dapat disimpukan bahwa factor keamanan menjadi illah adana larangan atau dibolehkan bepergian sendirian.
Pengujian dengan fakta historis
Jika dilihat dari segi historis, dan menggunakan kaidah ushuliah al-ibrah bi umumil lafzi la bi khususis sabab maka aplikasi hadis tersbut adalah bahwa perempuan tidak boleh bepergian tanpa ditemani seorang mahram dan juga harus dengan mahram bukan lainnya meskipun dengan keluarga sesame permpuan seperti bibi atau kakak perempuan. Namun jika menggunakan kaidah ushuliayah al-ibrah bi khususis sabab, maka hadis tersebut berlaku hanya untuk keadaan tidak aman, karena bahwa masyarakat arab pada waktu itu bepergian nenggunakan unta , bighal, dan keledai, mereka juga harus melewati darah padang pasir yang jauh dari kehidupan manusia dan jaraknya antara satu desa kdsa lainnya itu sekitar 50kg. Sehingga dikhawatirkan keselamatan sorang permpuan apabila melakukan perjalanan keluar tanpa ditemani seorang laki-laki (mahram), karena tidak mustahil adanya kejahatan seperti perampokan, qathi’ut thariq, dan ataupun pencemaran nama baik yang bisa membahayakan bagi seorang permpuan.
Pengujian dengan kebenaran ilmiah
Perlu kita ketahui bahwa masa dulu dengan masa kekinian amatlah jauh berbeda dimana dulu larangan tentang permpuan keluar tanpa mahram itu dikarenakan oleh situasi dan kondosi yang sangat terbatas sehingga keselamatan permpuan amat sangat diperlukan. Namun berbeda dengan masa sekarang yang mana tingkat keamannya sudah banyak hampir disetiap daerah maupun perkampungan, sehingga oleh karenanya kita tidaka perlu mengkhawatirkan akan keselamatan permpuan. Jika dikaji secara ilmiah hadis tentang larangan perempuan untuk dimasa yang skarang sangatlah bertentangan. Dikarenakan sekarang permpuan keluar bukan saja untuk mencari sensani melainkan juga untuk menuntut ilmu dan mencari ridhonnya Sang Ilahi. Sebagaimana yang disbut didalam al-Quran surah al-Mujadalah ayat;11:
يرفع الله الذين أمنوامنكم والذين أوتو العلم درحات,والله يعلمون خبير.(المجادله:11)
Artinya : “ Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat.(Qs.al-Mujadalah;11).
Ayat diatas ingin menjelaskan betapa pentingnya ilmu karena kita manuisa dibri kelebihan akal agar bisa membedakan antara manusia dan hewan. Begitupun dengan tingkat kemanan kini tingkat keamanan sudah ada dimana-mana. Jadi ketika kita pahami hadis itu secara teks tidak secara konteks maka permpuan sekarang sudah dikatakan ingkar terhadap hadis Nabi. Namun jika pahami secara konteks perluna kita kaji lebih dalam karena hadis itu sendiri lahir pada ruang dan waktu yang terbatas.
Kesimpulan
Berdasarkan dari penelitian yang telah dilakukan diatas, dari sisi saanad hadis ini secara kualitas itu bernilai shahih karena didalamnya memuat rai-rawi yang Tsiqah. Sedangkat secara kuantitasnya hadis ini bernilai ahad masyhur.
Kemudian dari sisi kritik matan, yang menggunakan empat metode al-Ghazali yaitu dilihat dari pengujian Al-quran, pengujian dengan hadis, pengujian dengan fakta historis, dan pengujian dengan kebenaran ilmiah, setalah melakukan empat metode tersebut dapat dikiatan hadis tentang larangan permpuan keluar tanpa cadar ini boleh dikatan tidak bisa diamalkan untuk masa sekarang