Al-Quran dan Hadis merupakan peninggalan Nabi yang paling berharga. Pernyataan ini berdasarkan hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Umar bin ‘Auf bin Zaed bin Mulhah bin Umar bin Bakar bin Afrak bin Utsman:
أَخْبَرَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ طَلْحَةَ بْنِ إِبْرَاهِيمَ بْنِ غَسَّانَ، بِقِرَاءَتِي عَلَيْهِ بِالْبَصْرَةِ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ سُلَيْمَانَ التُّسْتَرِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ سَعِيدٍ الْمَرْوَزِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَهْلِ بْنِ عَسْكَرٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْحُنَيْنِيُّ، عَنْ كَثِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ، قَالَ:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ:
” تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابُ اللَّهِ، وَسُنَّةُ نَبِيِّهِ “
Artinta:
“Aku meninggalkan bagi kalian dua hal, kalian tidak akan tersesat selama berpegang teguh dengan keduanya, yaitu Kitabullah (Al Quran) dan ajaran Nabi-Nya”.
Semua ulama bersepakat bahwa Hadis merupakan sumber ajaran Islam kedua setelah al-Quran. Maka dari itu, mempelajari tentang hadis merupakan wasiat Nabi yang harus kita pelajari dan jaga. Dengan harapan agar supaya kita selamat dunia akherat, seusai dengan tuntunan yang Nabi ajarkan melalui perkataan, perbuatan, dan taqrir yang Nabi contohkan. Lalu bagaimanakah pengertian hadis itu? apakah semua yang shahabat katakan berasal dari Nabi? Dan apakah semua hadis itu wajib diamalkan? Dan masih relevankah hadis Nabi sampai saat ini? Baik, untuk memperjelas kajian ini, penulis akan bahas pada bahasan selanjutnya.
Menurut Abdul Baqa’, Hadis adalah isim (kata benda) dari tahdis yang berarti pembicaraan. Kemudian didefiniskan sebagai ucapan, perbuatan atau penetapan yang dinisbatnkan kepada Nabi Muhammad SAW. Secara bahasa hadis merupakan resapan dari bahasa Arab yaitu al-Hadis, kata Hadis merupakan padanan kata Jadid yang berarti perkara yang baru. Menurut Para Ulama Ahli Hadis -dengan pendapat yang berbeda-beda dalam mendefinisikan hadis- sesuai dengan latar belakang disiplin ilmunya tetapi makna dan masksudnya sama. Secara istilah hadis dapat dilihat sebagai berikut:
- Menurut Ulama Ushul Fiqh
مانقل عن النبي صلى الله عليه وسلم من قول اوفعل اوتقریر
“Segala apa yang dinukil dari Nabi Saw., baik yang berupa perkataan, atau penetapan.
- Menurut Ulama Ahli Fiqh
كل ماثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم ولم يكن من باب الفرض ولا الواجب
“Segala ketetapan yang berasal dari Nabi Saw. yang bukan hukum fardu serta bukan wajib”. Menurut versi lain, Hadits adalah segala sesuatu yang ditetapkan Nabi SAW., yang tidak bersangkut paut dengan masalah-masalh fardhu atau wajib.
- Menurut Ulama Hadis
ما اثر عن النبي صلعم من قول اوفعل اوتقرير اوصفة خلقية اوخلقية اوسيرة سواء كان قبل البعثة اوبعدها
“Segala sesuatu yang bersumber dari Nabi Saw., dalam bentuk ucapan, perbuatan, penetapan, perangai atau sopan santun ataupun sepak terjang perjuangannya, baik sebelum maupun sesudah diangkat menjadi Rasul”. Hadis menurut versi lain, Hadis adalah segala sesuatu yang bersumber dari Nabi SAW. baik berupa perkataan, perbuatan, takrir maupun sifat-sifatnya. Hadis adalah segala perkataan Nabi SAW. perbuatan, dan hal ihwalnya. Hadits adalah sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW. baik berupa perkataan, perbuatan, takrir maupun sifatnya.
Menurut istilah, Hadis berarti: apa saja yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW. Baik berupa perkataan, perbuatan, ketetapan maupun sifatnya. sebagaimana yang dikemukakan oleh Jumhur al-Muhaddisin, hadis ialah :
ما أضيف إلى النبي صلى الله عليه وسلم قولا كان او فعلااو تقريرا
“ialah yang disandarkan kepada Nabi Muhammada SAW. Baik berupa perkataan , perbuatan, pernyataan (taqrir) dan sebagainya”.
- Perkataan, yang dimaksud dengan perkataan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, ialah perkataan yang pernah beliau ucapkan dalam berbagai bidang seperti bidang hukum (syariat) akhlak, akidah, pendidikan, dan sebagainya.
- Perbuatan-perbuatan, Nabi Muhammad Shallallahu salam merupakan penjelasan praktis terhadap peraturan-peraturan Syariat Yang belum jelas cara pelaksanaannya. Seperti tata cara beribadah sholat.
- Taqrir, arti taqrir dari Nabi ialah keadaan beliau mendiamkan, tidak mengadakan sanggahan atau menyetujui apa yang telah dilakukan atau diperkatakan oleh para sahabat di hadapan beliau. Seperti diamnya nabi saat para shahabat memakan daging biawak dan tidak ikut makan daging biawak yang disuguhkan oleh Khalid bin Walid. Beliau tidak makan lantaran jijik.
Berdasarkan pernyataan di atas, dapat disimpulkan bahwa hadis memiliki kesamaan, yaitu: semua yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW. Adalah Hadis, baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir, sifat maupun lain-lainnya.
Menurut Jumhur Al-Muhadisin, hadits dalam arti terbatas adalah sesuatu yang dinisbatkan kepada Nabi SAW. baik berupa perkataan, perbuatan, pernyataan (taqrir) dan sebagainya. Menurut Muhammad Mahfudz At-Tirmidzi hadis bukan hanya yang dimarfukan kepada Nabi Muhammad SAW., melainkan dapat pula disebutkan pada yang mauquf (dinisbatkan pada perkataan dan sebagainya dari sahabat) dan maqthu’ (dinisbatkan pada perkataan dan sebagainya dari tabi’in)