Berbakti Walau Tiada


عَنْ أَبِي أُسَيْدٍ مَالِكِ بْنِ رَبِيعَةَ السَّاعِدِيِّ، قَالَ: بَيْنَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ إِذْ جَاءَهُ رَجُلٌ مِنْ بَنِي سَلَمَةَ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، هَلْ بَقِيَ مِنْ بِرِّ أَبَوَيَّ شَيْءٌ أَبَرُّهُمَا بِهِ بَعْدَ مَوْتِهِمَا؟ قَالَ:

نَعَمْ، الصَّلَاةُ عَلَيْهِمَا، وَالِاسْتِغْفَارُ لَهُمَا، وَإِنْفَاذُ عَهْدِهِمَا مِنْ بَعْدِهِمَا، وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِي لَا تُوصَلُ إِلَّا بِهِمَا، وَإِكْرَامُ صَدِيقِهِمَا

Dari [Abu Usaid Malik bin Rabi’ah as-Sa’idy] berkata, Ketika kami duduk bersama Rasulullah SAW, datanglah seseorang dari kabilah Bani Salamah dan bertanya; “Wahai Rasulullah, apakah ada bakti yang tersisa untuk kedua orangtuaku yang dapat aku lakukan setelah mereka meninggal?.” Beliau menjawab;

“Ya! Mendo’akan mereka, menunaikan janji mereka, menyambung tali silaturrahmi yang pernah mereka lakukan dan memuliakan teman mereka.”

(HR. Abu Dawud, Hasan)

 

Pesan dari hadis di atas adalah:

  • Bentuk bakti kepada kedua orangtua bukan hanya ketika mereka hidup. Bahkan ketika mereka sudah tiada, seorang anak masih harus menunjukkan rasa baktinya kepada kedua orangtuanya dengan cara mendoakan mereka, menunaikan janji-janjinya, menyambung tali silaturrahim serta memuliakan teman-teman mereka.

Takhrij :
Ibnu majah : 3662
Ahmad : 15726