عَنْ أَبِي بَكْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
كَانَ إِذَا أَتَاهُ أَمْرٌ يَسُرُّهُ أَوْ بُشِّرَ بِهِ خَرَّ سَاجِدًا شُكْرًا لِلَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى
(رواه ابن ماجه)
Dari Abu Bakrah berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam apabila didatangi oleh urusan yang menyenangkan atau diberi kabar gembira, beliau tersungkur sujud sebagai tanda syukur kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala.”
(HR. Ibnu Majah)[1]
Mutiara Hadis:
- Hadis ini adalah dalil disyari’atkannya sujud syukur kepada Allah atas kebaikan dan nikmat-Nya.
- Sujud syukur tidak dilakukan kecuali hanya kepada Allah. Sujud syukur dilakukan karena telah mendapat nikmat atau terhindar dari musibah.
Mausuah al-Hadis, hadis riwayat Ibnu Majah no. 1384. juga diriwayatkan dalam Abu Daud no. 2393.