Meminta-minta kepada Penguasa


أَخْبَرَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ قَالَ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ عَنْ زَيْدِ بْنِ عُقْبَةَ عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:

الْمَسْأَلَةُ كَدٌّ يَكُدُّ بِهَا الرَّجُلُ وَجْهَهُ إِلَّا أَنْ يَسْأَلَ الرَّجُلُ سُلْطَانًا أَوْ فِي أَمْرٍ لَا بُدَّ مِنْهُ

 (رواه النسائي)

Telah mengabarkan kepada kami Mahmud bin Ghailan, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Waki’, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abdul Malik dari Zaid bin ‘Uqbah, dari Samurah bin Jundab, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Meminta-minta adalah hampir seperti seseorang mencakar wajahnya, kecuali seorang laki-laki yang meminta kepada penguasa atau sesuatu yang memang haknya untuk ia dapatkan.”

( HR. Nasa’i no.2553)

 

Penjelasan Hadis

Dalam hadis ini, Rasul memberikan gambaran mengenai akibat yang akan ditimbulkan dari orang yang meminta-minta, sekaligus hal-hal yang membolehkan seseorang meminta-minta, yaitu apabila meminta pada penguasa hal yang begitu dibutuhkan dan dalam keadaan yang mendesak.

 


Hadis ini dikuatkan dalam Sunan Tirmidzi no. 617, Musnad Ahmad no. 19247, 19353.