حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ أَبِي بِشْرٍ عَنْ يُوسُفَ بْنِ مَاهَكَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ تَخَلَّفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ سَافَرْنَاهُ فَأَدْرَكَنَا وَقَدْ أَرْهَقْنَا الصَّلَاةَ صَلَاةَ الْعَصْرِ وَنَحْنُ نَتَوَضَّأُ فَجَعَلْنَا نَمْسَحُ عَلَى أَرْجُلِنَا فَنَادَى بِأَعْلَى صَوْتِهِ وَيْلٌ لِلْأَعْقَابِ مِنْ النَّارِ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا
Artinya : Musaddad telah menyampaikan kepada kami, ia berkata Abu ‘Awanah telah menyampaikan kepada kami, dari Abu Bisyr dari Yusuf bin Mahak dari Abdullah bin ‘Amr ia berkata : “dalam sutatu perjalanan kami, Rasulullah Saw. tertinggal dari rombongan. Kemudian beliau mampu menyusul kami. Kala itu waktu shalat Ashar sudah masuk dan kami sedang berwudhu. Kami berwudhu dengan mengusap telapak kami, lantas beliau berseru dengan suara yang keras : “Celakalah tumit (yang tidak tersentuh air wudhu) karena jilatan api neraka.” Beliau mengulangi ucapan itu sebanyak dua atau tiga kali.” (H.R Bukhari Kitab Ilmu no.96).
Syarah Hadis : kedua hadis ini menunjukan bahwa salah satu ajaran Nabi Saw. jika mengucapkan suatu perkataan dan hal itu belum dipahami dengan benar maka beliau akan mengulanginya sebanyak tiga kali. Begitu juga dengan mengucapkan salam, jika beliau belum mendapatkan balasan beliau akan mengulanginya sebanyak tiga kali. (Syarah Shahih Bukhari, Jilid 1:395).
Dalam menuntut ilmu jika seorang guru menyampaikan sesuatu kepada para muridnya, sedangkan muridnya belum mengerti apa yang disampaikan maka hendaklah sang guru mengulanginya sebanyak tiga kali atau hingga para muridnya mengerti apa yang disampaikannya. Selain itu pengulangan ucapan juga bisa bertujuan untuk mempertegas sesuatu atau jika menyampaikan hal-hal yang penting.