حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنْ بُرَيْدٍ عَنْ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَبِي مُوسَى قَالَ سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَشْيَاءَ كَرِهَهَا فَلَمَّا أُكْثِرَ عَلَيْهِ غَضِبَ ثُمَّ قَالَ لِلنَّاسِ سَلُونِي عَمَّا شِئْتُمْ قَالَ رَجُلٌ مَنْ أَبِي قَالَ أَبُوكَ حُذَافَةُ فَقَامَ آخَرُ فَقَالَ مَنْ أَبِي يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَالَ أَبُوكَ سَالِمٌ مَوْلَى شَيْبَةَ فَلَمَّا رَأَى عُمَرُ مَا فِي وَجْهِهِ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَتُوبُ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
Artinya : Muhammad bin al-‘Alaa telah menyampaikan kepada kami, ia berkata Abu Usamah telah menyampaikan kepada kami, dari Buraid dari Abu Burdah dari Abu Musa bahwasanya ia berkata Nabi Saw pernah ditanya tentang sesuatu yang beliau benci. Ketika pertanyaan seperti itu semakin banyak maka beliaupun marah dan berkata kepada orang-orang : “Tanyakanlah kepadaku apa yang mau kalian tanyakan!” Seorang laki-laki bertanya “siapakah ayahku?” beliau menjawab : “Ayahmu Hudzafah.” Laki-laki lain bangkit dan bertanya “ya Rasulullah siapa ayahku?” beliau menjawab “ayahmu Salim maula Syaibah.” Ketika Umar melihat berubahnya rona wajah beliau, Umar berkata : “Ya Rasulullah, kami bertaubat kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” (H.R Bukhari no.92).
Syarah Hadis : Ada beberapa faidah yang terdapat dalam hadis ini diantaranya adalah bolehnya marah ketika ditanya dan memberi pelajaran jika memang ada faktor yang menjadi penyebabnya, seperti melihat sesuatu yang tidak disukai ataupun ditanya mengenai hal yang tidak perlu ditanyakan, atau ia mengetahui karakter orang yang bertanya itu keras kepala dan lain sebagainya. Maka ketika seseorang ditanya tentang hal yang tidak disukainya maka ia boleh saja marah karenanya.
Hadis ini juga menjelaskan tentang firasat Umar bin Khattab yang dapat melihat bahwa hal tersebut membuat Nabi Saw jenuh. Selain itu menyakiti Nabi Saw termasuk perbuatan dosa, sebagaimana yang tercantum dalam Q.S al-Ahzab ayat 57. (Syarah Shahih Bukhari, Jilid 1:389-390).