حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ عُفَيْرٍ قَالَ حَدَّثَنِي اللَّيْثُ قَالَ حَدَّثَنِي عُقَيْلٌ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ حَمْزَةَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ ابْنَ عُمَرَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَيْنَا أَنَا نَائِمٌ أُتِيتُ بِقَدَحِ لَبَنٍ فَشَرِبْتُ حَتَّى إِنِّي لَأَرَى الرِّيَّ يَخْرُجُ فِي أَظْفَارِي ثُمَّ أَعْطَيْتُ فَضْلِي عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ قَالُوا فَمَا أَوَّلْتَهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الْعِلْمَ
Artinya : Sa’id bin ‘Ufair telah menyampaikan kepada kami, ia berkata al-Laits telah menyampaikan kepadaku, ia berkata, ‘Uqail telah menyampaikan kepadaku dari Ibnu Syihab dari Hamzah bin Abdullah bin Umar, bahwasanya Ibnu Umar berkata : Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda : “Ketika aku sedang tidur, aku bermimpi diberikan segelas susu kemudian akupun meminumnya. Hingga aku merasakan kepuasan seolah mengucur keluar dari kuku jari jemariku. Lalu aku memberikan sisanya kepada Umar bin Khathab.” Para sahabat bertanya “ apa takwil mimpi tersebut wahai Rasulullah?” Beliau menjawab “Ilmu.” (H.R Bukhari Kitab Ilmu no.82)
Syarah Hadis : Rasulullah Saw bersabda “ketika sedang tidur, aku bermimpi diberikan.” Kata bainaa (ketika) berkaitan dengan kata utiitu (aku diberikan), karena kata bainaa bisa berupa zharaf makan (penunjuk tempat) dan juga zharaf zaman (penunjuk waktu) dikarenakan perluasan pemakaian kata. Sabda beliau “aku sedang tidur” adalah kalimat yang diawali oleh kata benda (jumlah ismiyah).
Sabda beliau “aku diberikan” tidak dijelaskan siapa yang memberikannya kepada beliau. Tetapi sudah diketahui bersama bahwa yang hadis dalam mimpi adalah malaikan yang datang membawa benda tersebut.
Sabda beliau “ segelas susu kemudian aku pun meminumnya. Hingga aku merasakan kepuasan seolah mengucur keluar dari jari jemariku.” Maksudnya seluruh kulit beliau telah penuh hingga mulailah ia keluar dari kuku jari jemarinya.
Sabda beliau “lalu aku memberikan sisanya kepada Umar bin Khattab” takwilnya adalah ilmu. Persamaan antara ilmu dengan susu adalah nutrisi yang terkandung di dalamnya disamping rasanya yang manis, mudah dicerna dan menguatkan badan. Hal ini juga menunjukkan keutamaan dan keluasan Umar bin Khattab dalam ilmu. (Syarah Shahih Bukhari, Jilid 1:347)