Bagaimana Konsep Teologi Lingkungan?


konsep ketuhanan, alam dan manusia

Konsep Ketuhanan

Nasr—seperti yang dikutip oleh Irwandra—meyakini bahwa pada diri-Nya, Tuhan dipandang sebagai Yang Transenden. Sisi lain, Tuhan sebagai zat-Nya adalah munazzah; bersih dari dan tidak dapat diserupakan dengan alam, jauh dari dan tinggi di atas segala sifat dan segala keterbatasan dan keterikatan. Dalam pandangan ini, Tuhan tidak dapat diketahui dan tidak dapat ditangkap, tidak dapat dipikirkan dan tidak dapat dilukiskan. Satu-satunya sifat yang berlaku pada-Nya adalah “Keabsolutan”. Pengertian “Keabsolutan” ini menghimpun sifat-sifat yang Tak Terbatas dan Mahasempurna Tuhan dan dalam bahasa al-Qur’an, Keabsolutan Tuhan menunjukkan Keagungan-Nya, KetidakterbatasanNya menunjukkan Keindahan (Jamal) dan Kemahasempurnaan-Nya menunjukkan Kamal, yang dalam bahasa Arab mempunyai makna kesempurnaan juga keseluruhan

Untuk menggambarkan realitas kesemestaan Tuhan ini, Nasr lalu merinci penjelasan pada pola hubungan Tuhan, manusia dan alam semesta, yang menurutnya sebagai hubungan yang saling meliputi. Hubungan saling meliputi ini merupakan manifestasi dari Realitas Watak Ketuhanan Yang Absolut itu. Dalam konteks realitas Ketuhanan sebagaimana yang dijelaskan di atas, manusia lalu dipandang sebagai jembatan antara langit dan bumi, instrumen yang menjadi perwujudan dan kristalisasi Kehendak Allah di muka bumi (khalifatullah fi al-ardi).

Alam sebagai teofani

Lebih jauh, untuk mengembalikan peradaban dunia kepad yang sakral, Nasr menawarkan solusi, yaitu meletakkan alam sebagai yang teofani Artinya, masyarakat modern perlu meletakkan kembali pemahamannya tentang eksistensi diri, alam dan Tuhan serta bagaimana relasi antarketiganya bisa berlangsung harmoni. Melihat alam dalam kacamata intelek adalah cara pandang yang tidak meletakkan alam sebagai pola kenyataan-kenyataan yang dieksternalisasi dan kasar, melainkan sebagai teater yang di dalamnya termaktub sifat-sifat Illahi

 

Melalui kerangka ini, Nasr sebetulnya hendak mengajak kita untuk merenungkan bahwa hakikat manusia adalah bagian integral dari alam, sedangkan alam semesta adalah cerminan dari kekuasaan Ilahi. Maka dalam konteks inilah, menempuh langkah untuk berdamai dan hidup harmoni dengan alam adalah jalan yang terbaik. Sebab bagi Nasr, tak akan ada kedamaian antarmanusia kecuali tercipta kedamaian dan harmonisitas dengan alam. Agar semua itu terwujud maka manusia harus berharmoni dengan sumber dan asal-usul makhluk. Siapa pun yang berdamai dengan Tuhan, ia juga akan berdamai dengan ciptaan-Nya; dengan alam dan manusia.