عَنْ عَامِرٍ الشَّعْبِىِّ قَالَ سَأَلْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبَّاسٍ وَعَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ عَنْ صَلاَةِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِاللَّيْلِ فَقَالاَ ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً مِنْهَا ثَمَانٍ وَيُوتِرُ بِثَلاَثٍ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْفَجْرِ (رواه ابن ماجه: ١٤٢٣).
Artinya: hadis ini dari Amir asy-Sya’bi, ia berkata: Aku bertanya kepada Abdullah bin Abbas dan Abdullah bin Umar tentang shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di malam hari, maka keduanya menjawab: “Tiga belas rakaat, di antaranya delapan (tahajud), dan beliau berwitir dengan tiga rakaat, serta dua rakaat setelah fajar.” (HR Ibn Majah: 1423).
Hadis ini meriwayatkan jawaban Abdullah bin Abbas dan Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma ketika ditanya tentang jumlah rakaat shalat malam yang biasa dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Keduanya sepakat bahwa jumlahnya adalah tiga belas rakaat, yang terdiri dari delapan rakaat shalat tahajud, tiga rakaat shalat witir, dan dua rakaat shalat sunnah setelah masuk waktu fajar (sebelum shalat Subuh). Hadis ini memberikan gambaran tentang salah satu pola ibadah malam Nabi yang meliputi shalat tahajud sebagai ibadah utama di malam hari, diikuti dengan shalat witir sebagai penutup dengan jumlah tiga rakaat, serta shalat sunnah fajar sebagai ibadah yang mengiringi masuknya waktu Subuh. Kesaksian dari dua sahabat yang dekat dengan Nabi ini menjadi sumber penting dalam memahami praktik ibadah malam Nabi SAW.