Hadis ke-36


عَنْ عَاصِمِ بْنِ ضَمْرَةَ السَّلُولِىِّ قَالَ قَالَ عَلِىُّ بْنُ أَبِى طَالِبٍ إِنَّ الْوِتْرَ لَيْسَ بِحَتْمٍ وَلاَ كَصَلاَتِكُمُ الْمَكْتُوبَةِ وَلَكِنْ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَوْتَرَ. ثُمَّ قَالَ « يَا أَهْلَ الْقُرْآنِ أَوْتِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ » (رواه ابن ماجه: ١٢٢٤).

Artinya: hadis ini dari Ashim bin Dhamrah as-Saluli, ia berkata: Ali bin Abi Thalib berkata: “Sesungguhnya witir itu tidaklah wajib dan tidak seperti shalat fardhu kalian, akan tetapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berwitir.” Kemudian beliau bersabda: “Wahai ahli Al-Qur’an, berwitirlah kalian, karena sesungguhnya Allah itu Witir (Maha Esa) dan mencintai witir.”(HR Ibn Majah: 1224).

Hadis ini meriwayatkan perkataan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu yang menjelaskan bahwa shalat witir bukanlah ibadah yang wajib seperti shalat lima waktu. Meskipun demikian, Ali menekankan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu melaksanakan witir, menunjukkan pentingnya ibadah ini sebagai sunnah yang sangat dianjurkan. Lebih lanjut, Ali menyampaikan sabda Nabi yang menyeru “Wahai ahli Al-Qur’an, berwitirlah kalian, karena sesungguhnya Allah itu Witir (Maha Esa) dan mencintai witir.” Seruan khusus kepada ahli Al-Qur’an ini menunjukkan keutamaan dan kesesuaian antara membaca Al-Qur’an di malam hari dengan menutupnya dengan shalat witir. Hadis ini menggarisbawahi status sunnah muakkadah bagi witir dan keutamaan ibadah ini, terutama bagi mereka yang akrab dengan Al-Qur’an. Sifat Allah yang Witir (Maha Esa) juga menjadi alasan mengapa ibadah witir dicintai oleh-Nya