عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَوْتَرَ بِتِسْعِ رَكَعَاتٍ لَمْ يَقْعُدْ إِلَّا فِي الثَّامِنَةِ فَيَحْمَدُ اللَّهَ وَيَذْكُرُهُ وَيَدْعُو ثُمَّ يَنْهَضُ وَلَا يُسَلِّمُ ثُمَّ يُصَلِّي التَّاسِعَةَ فَيَجْلِسُ فَيَذْكُرُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَيَدْعُو ثُمَّ يُسَلِّمُ تَسْلِيمَةً يُسْمِعُنَا ثُمَّ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ وَهُوَ جَالِسٌ فَلَمَّا كَبِرَ وَضَعُفَ أَوْتَرَ بِسَبْعِ رَكَعَاتٍ لَا يَقْعُدُ إِلَّا فِي السَّادِسَةِ ثُمَّ يَنْهَضُ وَلَا يُسَلِّمُ فَيُصَلِّي السَّابِعَةَ ثُمَّ يُسَلِّمُ تَسْلِيمَةً ثُمَّ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ وَهُوَ جَالِسٌ (رواه النسائ: ١٧١٨).
Artinya: hadis ini dari Aisyah, ia berkata: “Rasulullah SAW apabila berwitir dengan sembilan rakaat, rasulullah tidak duduk kecuali pada rakaat kedelapan. Kemudian memuji Allah SWT, menyebut-Nya, dan berdoa, lalu bangkit tanpa salam. Kemudian rasul shalat rakaat kesembilan, lalu duduk, kemudian menyebut Allah Azza wa Jalla dan berdoa, kemudian salam dengan satu salam yang kami dengar. Kemudian rasul shalat dua rakaat dalam keadaan duduk. Ketika rasul telah tua dan lemah, rasul berwitir dengan tujuh rakaat, tidak duduk kecuali pada rakaat keenam, kemudian rasul bangkit tanpa salam. Kemudian rasul shalat rakaat ketujuh, kemudian salam dengan satu salam, kemudian shalat dua rakaat dalam keadaan duduk. (HR an- Nasa’i: 1718).
Hadis ini menjelaskan dengan memberikan gambaran tentang variasi tata cara shalat witir yang pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Aisyah RA. Ketika rasulullah melaksanakan witir sembilan rakaat, rasul hanya duduk pada rakaat kedelapan untuk bertahiyat, kemudian bangkit tanpa salam untuk melanjutkan ke rakaat kesembilan, di mana rasul duduk untuk bertahiyat akhir dan salam dengan satu salam yang diperdengarkan. Setelah itu, rasul masih melaksanakan dua rakaat sunnah dalam keadaan duduk. Ketika usia rasul bertambah dan kondisi fisik melemah, rasul melaksanakan witir tujuh rakaat dengan pola yang serupa, yaitu duduk hanya pada rakaat keenam untuk bertahiyat, kemudian bangkit untuk rakaat ketujuh dan salam, diikuti dengan dua rakaat sunnah dalam keadaan duduk. Hadis ini menunjukkan bahwa terdapat beberapa cara yang dicontohkan oleh Nabi SAW dalam melaksanakan witir dengan jumlah rakaat yang lebih banyak, dan adanya shalat sunnah dua rakaat setelah witir merupakan praktik rasul.