عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُوتِرُ بِسَبْعٍ أَوْ بِخَمْسٍ لاَ يَفْصِلُ بَيْنَهُنَّ بِتَسْلِيمٍ وَلاَ كَلاَمٍ (رواه ابن ماجه: ١٢٤٨).
Artinya: hadis ini dari Ummu Salamah, ia berkata: Rasulullah SAW berwitir dengan tujuh atau lima rakaat, beliau tidak memisahkannya dengan salam maupun perkataan. (HR Ibn Majah: 1248).
Hadis ini menjelaskan salah satu tata cara pelaksanaan shalat witir yang dilakukan oleh Rasulullah SAW, sebagaimana yang dikabarkan oleh Ummu Salamah RA. Rasulullah pernah melaksanakan witir dengan tujuh rakaat atau lima rakaat yang dikerjakan secara berkesinambungan tanpa adanya pemisah berupa salam di antara rakaat-rakaat tersebut, dan juga tanpa berbicara di sela-selanya. Tata cara ini berbeda dengan riwayat lain yang menyebutkan adanya pemisahan dengan salam pada bilangan rakaat tertentu. Hadis ini menunjukkan adanya variasi dalam praktik witir Nabi, di mana beliau terkadang melaksanakannya secara langsung tanpa pemisah pada jumlah rakaat yang ganjil seperti lima atau tujuh. Hal ini memberikan keluasan bagi umat Islam untuk memilih tata cara witir yang sesuai dengan kemampuan dan keyakinan mereka berdasarkan sunnah Nabi yang beragam.