عَنْ أَبِى أَيُّوبَ الأَنْصَارِىِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « الْوِتْرُ حَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِخَمْسٍ فَلْيَفْعَلْ وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِثَلاَثٍ فَلْيَفْعَلْ وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِوَاحِدَةٍ فَلْيَفْعَلْ ».(رواه أبو داود: ١٤٢٤).
Artinya: hadis ini dari Abu Ayyub Al-Anshari, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: Witir adalah hak bagi setiap Muslim. Barangsiapa yang ingin berwitir dengan lima rakaat, maka lakukanlah. Barangsiapa yang ingin berwitir dengan tiga rakaat, maka lakukanlah. Dan barangsiapa yang ingin berwitir dengan satu rakaat, maka lakukanlah.(HR Abu Dawud: 1424).
Hadis ini menjelaskan bahwa shalat witir adalah ibadah yang dianjurkan dan memiliki kedudukan penting bagi setiap Muslim (“hak bagi setiap Muslim”). Lebih lanjut, hadis ini memberikan fleksibilitas dalam jumlah rakaat yang dapat dikerjakan dalam shalat witir. Seorang Muslim diperbolehkan memilih untuk melaksanakan witir dengan lima rakaat, tiga rakaat, atau bahkan hanya satu rakaat, sesuai dengan kemampuannya dan apa yang ia kehendaki. Hal ini menunjukkan keluasan dalam syariat Islam, di mana umatnya diberikan pilihan dalam melaksanakan ibadah witir tanpa adanya batasan jumlah rakaat yang kaku, meskipun jumlah rakaat yang lebih banyak tentu lebih utama. Hadis ini menguatkan anjuran untuk tidak meninggalkan shalat witir dan memberikan kemudahan dalam pelaksanaannya.