Menyekutukan Allah dan hukumannya


:حَدَّثَنَا خَلَّادُ بْنُ يَحْيَى حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ مَنْصُورٍ وَالْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي وَائِلٍ عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنُؤَاخَذُ بِمَا عَمِلْنَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ قَالَ

مَنْ أَحْسَنَ فِي الْإِسْلَامِ لَمْ يُؤَاخَذْ بِمَا عَمِلَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ وَمَنْ أَسَاءَ فِي الْإِسْلَامِ أُخِذَ بِالْأَوَّلِ وَالْآخِرِ

(صحيح البخاري حديث رقم. 6410 – كتاب التوبة للمرتدين والمنشقين ومحاربتهم)

Telah menceritakan kepada kami Khallad bin Yahya telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Manshur dan Al A’masy dari Abu Wa`il dari Ibnu Mas’ud radliallahu ‘anhu mengatakan, seorang laki-laki bertanya; ‘ya Rasulullah, apakah kami dihukum karena kelakuan-kelakuan kami semasa jahiliyah? ‘ Nabi menjawab:

“Barangsia berbuat baik dalam Islam, maka tak dihukum kelakuan-kelakuannya semasa jahiliyah, sebaliknya barangsiapa berbuat buruk dalam Islam, ia dihukum semenjak kelakuan awalnya dan akhirnya.”

(Hadits Shahih Al-Bukhari No. 6410 – Kitab Meminta taubat orang-orang murtad dan para pembangkan serta memerangi mereka)