kegagalan bukanlah tanda untuk berhenti, melainkan tanda
bahwa ada hal-hal baru yang harus dipelajari setiap waktunya.
Dengan begitu, ketekunan melatih kita untuk lebih bijaksana
dalam menghadapi tantangan, bukan hanya keras kepala tanpa
tujuan. Ia melatih kesabaran, melatih disiplin, dan melatih hati
agar tidak mudah tergoda untuk mencari jalan pintas.
Selain itu, ketekunan memiliki kaitan yang sangat erat
dengan keyakinan, seseorang akan lebih mudah tekun jika ia
memiliki keyakinan kuat pada mimpi yang diperjuangkannya.
Keyakinan inilah yang menjadi bahan bakar saat tenaga mulai
melemah, dan keyakinan pula yang membuat seseorang rela
menanggung rasa sakit sementara demi kebahagiaan di masa
depan. Tanpa adanya keyakinan, ketekunan akan mudah goyah,
sebaliknya, dengan keyakinan, langkah sekecil apa pun tetap
berarti karena ada tujuan yang jelas di depan. Maka, menjaga
keyakinan pada mimpi sama pentingnya dengan bekerja keras
untuk meraihnya.
Ketekunan juga menuntut adanya konsistensi. Banyak
orang bersemangat di awal, tetapi kehilangan arah di tengah
perjalanan. Konsistensi menjaga api semangat agar tidak padam
perlu untuk dilakukan, meski kadang nyalanya kian hari kian
mengecil. Konsistensi berarti melakukan sesuatu secara
berulang, meski tidak selalu terlihat hasilnya segera. Sama
halnya dengan seorang petani yang menanam benih, ia tidak bisa