18


  1. Belajar dari Luka Menjadi Cahaya

Dalam hidup, setiap orang pasti membawa jejak luka, luka

bisa hadir dari berbagai pengalaman, dikhianati orang yang

17dipercaya, gagal dalam rencana yang diusahakan sepenuh

tenaga, kehilangan sosok yang sangat dicintai, atau sekadar

menerima ucapan yang melukai hati. Luka-luka itu mungkin

tidak terlihat dari luar, tetapi terasa begitu jelas di dalam batin. Ia

melekat, kadang membekas lama bahkan selamanya, dan hal itu

bahkan dapat mempengaruhi cara kita memandang diri sendiri

dan dunia.

Namun, yang membedakan satu orang dengan orang lain

bukanlah apakah ia pernah terluka atau tidak, melainkan

bagaimana ia merespons dan menghadapi luka tersebut. Ada

yang memilih membiarkan luka itu menggerogoti dirinya

perlahan, ada yang berusaha menutupinya tanpa pernah

menyelesaikannya, dan ada pula yang dengan sabar

menjadikannya pelajaran untuk tumbuh. Pada titik inilah kita

belajar bahwa luka bisa berubah menjadi penghalang, namun jika

dihadapi dengar baik bisa pula menjadi cahaya yang akan

menerangi kegelapan akibat luka dan kekcewaan itu.

Mengubah luka menjadi cahaya bukan berarti harus

berpura-pura bahwa rasa sakit tidak ada. Justru sebaliknya,

langkah pertama adalah mengakui keberadaan luka itu.

Mengakui bahwa kita sedang sedih, kecewa, atau marah hal itu

adalah bagian dari keberanian. Menolak perasaan hanya akan

membuat luka itu bertahan lebih lama didalam diri. Dengan

mengakui, kita memberi kesempatan kepada diri untuk