- Belajar dari Luka Menjadi Cahaya
Dalam hidup, setiap orang pasti membawa jejak luka, luka
bisa hadir dari berbagai pengalaman, dikhianati orang yang
17dipercaya, gagal dalam rencana yang diusahakan sepenuh
tenaga, kehilangan sosok yang sangat dicintai, atau sekadar
menerima ucapan yang melukai hati. Luka-luka itu mungkin
tidak terlihat dari luar, tetapi terasa begitu jelas di dalam batin. Ia
melekat, kadang membekas lama bahkan selamanya, dan hal itu
bahkan dapat mempengaruhi cara kita memandang diri sendiri
dan dunia.
Namun, yang membedakan satu orang dengan orang lain
bukanlah apakah ia pernah terluka atau tidak, melainkan
bagaimana ia merespons dan menghadapi luka tersebut. Ada
yang memilih membiarkan luka itu menggerogoti dirinya
perlahan, ada yang berusaha menutupinya tanpa pernah
menyelesaikannya, dan ada pula yang dengan sabar
menjadikannya pelajaran untuk tumbuh. Pada titik inilah kita
belajar bahwa luka bisa berubah menjadi penghalang, namun jika
dihadapi dengar baik bisa pula menjadi cahaya yang akan
menerangi kegelapan akibat luka dan kekcewaan itu.
Mengubah luka menjadi cahaya bukan berarti harus
berpura-pura bahwa rasa sakit tidak ada. Justru sebaliknya,
langkah pertama adalah mengakui keberadaan luka itu.
Mengakui bahwa kita sedang sedih, kecewa, atau marah hal itu
adalah bagian dari keberanian. Menolak perasaan hanya akan
membuat luka itu bertahan lebih lama didalam diri. Dengan
mengakui, kita memberi kesempatan kepada diri untuk