masih terbuka pada harapan, kita akan selalu mampu menata
ulang diri dan melanjutkan langkah.
Mengelola rasa sakit membutuhkan kesadaran penuh dari
dalam diri untuk mengubah luka menjadi pelajaran. Sakit bisa
menjadi alasan untuk berhenti dari sesuatu, dan juga bisa
menjadi alasan untuk melompat lebih jauha, tergantung
bagaimana kita menanggapi rasa sakit itu. Orang yang pernah
terluka biasanya memiliki empati yang lebih besar, karena ia tahu
bagaimana rasanya disakiti. Orang yang pernah kecewa biasanya
memiliki kebijaksanaan lebih luas dalam menilai hidup, karena
ia belajar menerima kenyataan. Dan orang yang pernah patah hati
biasanya lebih matang dalam mencintai, karena ia memahami
bahwa cinta bukan hanya tentang memiliki, tetapi juga tentang
memberi ruang untuk tumbuh.
Salah satu cara mengelola rasa sakit adalah dengan
menyalurkannya ke dalam bentuk yang bermanfaat seperti
membaca, melukis ataupun menulis. Banyak karya besar lahir
dari luka batin yang mendalam. Seniman menyalurkan rasa
sakitnya ke dalam lukisan, penulis menuangkannya ke dalam
cerita, musisi mengubahnya menjadi lagu, bahkan tak jarang
buku-buku hebat dari penulis-penulis ternama terlahir dari luka
dalam yang mereka rasakan dalam hidupnya. Bahkan dalam
kehidupan sehari-hari, kita bisa menjadikan rasa sakit sebagai
dorongan untuk berbuat lebih baik. Kecewa karena gagal bisa