15


masih terbuka pada harapan, kita akan selalu mampu menata

ulang diri dan melanjutkan langkah.

Mengelola rasa sakit membutuhkan kesadaran penuh dari

dalam diri untuk mengubah luka menjadi pelajaran. Sakit bisa

menjadi alasan untuk berhenti dari sesuatu, dan juga bisa

menjadi alasan untuk melompat lebih jauha, tergantung

bagaimana kita menanggapi rasa sakit itu. Orang yang pernah

terluka biasanya memiliki empati yang lebih besar, karena ia tahu

bagaimana rasanya disakiti. Orang yang pernah kecewa biasanya

memiliki kebijaksanaan lebih luas dalam menilai hidup, karena

ia belajar menerima kenyataan. Dan orang yang pernah patah hati

biasanya lebih matang dalam mencintai, karena ia memahami

bahwa cinta bukan hanya tentang memiliki, tetapi juga tentang

memberi ruang untuk tumbuh.

Salah satu cara mengelola rasa sakit adalah dengan

menyalurkannya ke dalam bentuk yang bermanfaat seperti

membaca, melukis ataupun menulis. Banyak karya besar lahir

dari luka batin yang mendalam. Seniman menyalurkan rasa

sakitnya ke dalam lukisan, penulis menuangkannya ke dalam

cerita, musisi mengubahnya menjadi lagu, bahkan tak jarang

buku-buku hebat dari penulis-penulis ternama terlahir dari luka

dalam yang mereka rasakan dalam hidupnya. Bahkan dalam

kehidupan sehari-hari, kita bisa menjadikan rasa sakit sebagai

dorongan untuk berbuat lebih baik. Kecewa karena gagal bisa