mana harus melangkah ketika dihadapkan pada persimpangan
besar. Tetapi ketika hati disandarkan kepada sang pencipta, arah
itu secara perlahan akan mulai terbuka, meski mungkin tidak
langsung terlihat jelas oleh mata, tetapi keyakinan yang tumbuh
di dalam jiwa membuat langkah terasa lebih ringan.
Resah yang semula membingungkan diri, kini menjadi
petunjuk bahwa manusia perlu mendekat, perlu berserah, dan
perlu mempercayakan perjalanan kepada yang maha kuasa. Dari
situlah, setiap langkah ke depan menjadi lebih mantap, bukan
karena jalannya bebas hambatan, tetapi karena hati telah
menemukan pegangan yang kokoh untuk tempat bersandar yang
selalu ada kapanpun dan dimanapun.
Menyadari bahwa mengembalikan segala resah kepada
Tuhan bukan hanya soal menghadapi masalah besar dalam
hidup, tetapi juga tentang membiasakan hati untuk selalu
Kembali, dalam perkara kecil sekalipun. Manusia bisa melatih
diri untuk selalu bersandar kepada sang pencipta, sehingga
hubungan dengan sang pencipta tidak hanya terjadi ketika hidup
terasa sulit, tetapi juga ketika hidup sedang berjalan baik.
Kebiasaan ini membuat hati lebih stabil, tidak mudah goyah oleh
perubahan keadaan.
Orang yang selalu menyandarkan semunya kepada Tuhan,
secara ia perlahan akan tahu bahwa resah hanyalah bagian kecil
dari perjalanan hidup, sementara pegangan sejatinya adalah