106


kepada Allah melalui doa-doa penuh kerendahan hati, sambil

memohon agar dirinya tidak dicatat sebagai pemimpin lalai. Dari

Umar, kita belajar bahwa resah dalam tanggung jawab besar

hanya bisa diringankan ketika disandarkan pada Allah, bukan

pada kekuatan diri semata.

Keresahan juga pernah dialami Rabi’ah al-Adawiyah,

perempuan sufi yang sejak kecil hidup dalam kemiskinan,

kesendirian, bahkan pernah dijual sebagai budak. Dalam keadaan

yang tampak gelap itu, ia memilih menyerahkan semua

keresahannya kepada Sang Pencipta. Doa dan ikhtiar menjadi

jalannya untuk menemukan ketenangan, hingga keresahan yang

awalnya menghimpit berubah menjadi pintu cinta kepada Allah.

Hidupnya dikemudian hari dikenal sebagai teladan yang

zuhud dan kepasrahan total, tanpa lagi digelisahkan oleh dunia.

Dari kisahnya, kita memahami bahwa resah tidak harus menjadi

penjara batin, tetapi bisa menjadi jalan menuju ketenangan jika

sepenuhnya dikembalikan kepada Tuhan. Dengan begitu,

pengalaman Umar dan Rabi’ah sama-sama menegaskan bahwa

beban sebesar apa pun akan terasa ringan ketika manusia kembali

kepada Sang Pencipta.

Ketenangan yang lahir dari menyerahkan resah kepada

Tuhan berbeda dengan ketenangan semu yang ditawarkan oleh

dunia yang fana. Dunia sering kali memberikan hiburan

sementara, yang hanya menutupi luka tanpa benar-benar