Mengembalikan resah pada Tuhan juga berarti melatih
keikhlasan dalam hidup, ada hal-hal yang tidak bisa dijelaskan
dengan logika manusia, ada pula peristiwa-peristiwa yang tidak
berjalan sesuai keinginan. Ketika semua usaha sudah dilakukan
namun hasilnya tetap mengecewakan, manusia bisa saja merasa
putus asa. Tetapi ketika hati diarahkan kepada sang pencipta,
perlahan-lahan tumbuh sikap sabar dan menerima dengan ikhlas.
Namun bukan juga berarti pasrah tanpa usaha, melainkan
memahami bahwa setiap hasil adalah bagian dari rencana yang
lebih luas dan penuh hikmah.
Dari hal-hal seperti inilah manusia belajar bahwa
melepaskan bukanlah kehilangan, melainkan bentuk kepatuhan
pada kehendak yang lebih tinggi. Dalam litelatur Sejarah juga
telah mencatat bahwa ketika Umar bin Khattab, khalifah yang
terkenal tegas, pernah menghadapi masa sulit ketika umat Islam
mengalami tahun kelaparan (Ramaadah). Rakyat banyak
menderita, ternak mati, dan kebutuhan pokok sangat sulit
didapat.
Umar yang memikul amanah besar tentu dilanda resah
yang mendalam, ia tidak pernah membiarkan kegelisahan itu
membuatnya putus asa. Umar menolak hidup lebih baik dari
rakyatnya, ia hanya berbuka dengan minyak zaitun, dan setiap
malam berkeliling untuk memastikan keadaan umat, yang paling
penting, umar selalu mengembalikan seluruh keresahannya