104


Mengembalikan segala resah pada sang pencipta berarti

mengakui keterbatasan diri. Tidak ada manusia yang mampu

sepenuhnya mengendalikan hidupnya, sebab segala sesuatu

berada dalam kuasanya. Kerap kali manusia mengira ia dapat

mengatasi segalanya dengan usaha sendiri, namun semakin keras

ia mencoba, semakin tampak kelemahannya. Menyerahkan

keresahan kepada Tuhan bukanlah tanda kelemahan kita,

melainkan sebuah pengakuan bahwa manusia hanyalah makhluk

dengan segala keterbatasan. Pengakuan itu justru menjadi

kekuatan, karena darinya tumbuh kesadaran bahwa selalu ada

tempat untuk bergantung, selalu ada sumber kasih yang tidak

pernah meninggalkan.

Di dalam do’a, keluh kesah berubah menjadi pengakuan

jujur tentang kondisi diri kepada Tuhan, manusia dapat

menyampaikan semua perasaan yang tidak mampu ia ceritakan

kepada siapa pun, karena sang pencipta selalu mendengar tanpa

menghakimi, dan selelu mendengar tanpa mengumbarkannya.

Dengan demikian, do’a menjadi ruang aman yang menghadirkan

rasa lega, segala keresahan yang dipendam, yang semula terasa

menghimpit, perlahan menemukan jalannya untuk dilepaskan.

Do’a tidak selalu mengubah keadaan secara langsung, tetapi do’a

mengubah hati orang yang berdo’a, hati yang semula penuh

resah menjadi lebih sabar, hati yang semula penuh cemas

menjadi lebih tenang, hati yang semula goyah menjadi lebih

kuat