Dalam dinamika kehidupan social ini banyak orang yang
terjebak dalam kebingungan atau pesimisme, dan hanya butuh
satu jendela terbuka untuk kembali menyadari bahwa di luar
masih ada cahaya yang menyinari. Disinilah peran kita untuk
bisa menjadi jendela baginya, untuk bisa membawanya keluar
dari rasa pesimisnya, untuk menjadi motovasi dikala dia
membutuhkannya.
Namun, menjadi cahaya juga seperti lilin yang harus rela
terbakar demi memberi terang. Artinya, terkadang seseorang
perlu mengorbankan sedikit kenyamanan atau waktunya untuk
hadir bagi orang lain. Lilin tidak pernah mengeluh saat
cahayanya dinikmati banyak orang, begitu pula orang yang
penuh ketulusan tidak merasa terbebani ketika memberikan
dukungan. Justru dalam kerelaan itulah cahaya tampak paling
indah, karena ia lahir dari hati yang tulus.
Selain itu, menjadi cahaya bagi sekitar juga berarti
membuka diri untuk memahami keberagaman, kehidupan sosial
tidak pernah lepas dari perbedaan baik dalam cara berpikir, latar
belakang, maupun tujuan hidup. Orang yang menjadi cahaya
tidak memandang perbedaan sebagai ancaman, melainkan
sebagai kekayaan yang bisa memperluas wawasan. Mereka hadir
dengan sikap inklusif, menghargai perbedaan, dan mencari titik
temu untuk membangun kerja sama yang sehat. Dengan sikap
ini, mereka menciptakan suasana di mana setiap orang merasa