99


Dalam dinamika kehidupan social ini banyak orang yang

terjebak dalam kebingungan atau pesimisme, dan hanya butuh

satu jendela terbuka untuk kembali menyadari bahwa di luar

masih ada cahaya yang menyinari. Disinilah peran kita untuk

bisa menjadi jendela baginya, untuk bisa membawanya keluar

dari rasa pesimisnya, untuk menjadi motovasi dikala dia

membutuhkannya.

Namun, menjadi cahaya juga seperti lilin yang harus rela

terbakar demi memberi terang. Artinya, terkadang seseorang

perlu mengorbankan sedikit kenyamanan atau waktunya untuk

hadir bagi orang lain. Lilin tidak pernah mengeluh saat

cahayanya dinikmati banyak orang, begitu pula orang yang

penuh ketulusan tidak merasa terbebani ketika memberikan

dukungan. Justru dalam kerelaan itulah cahaya tampak paling

indah, karena ia lahir dari hati yang tulus.

Selain itu, menjadi cahaya bagi sekitar juga berarti

membuka diri untuk memahami keberagaman, kehidupan sosial

tidak pernah lepas dari perbedaan baik dalam cara berpikir, latar

belakang, maupun tujuan hidup. Orang yang menjadi cahaya

tidak memandang perbedaan sebagai ancaman, melainkan

sebagai kekayaan yang bisa memperluas wawasan. Mereka hadir

dengan sikap inklusif, menghargai perbedaan, dan mencari titik

temu untuk membangun kerja sama yang sehat. Dengan sikap

ini, mereka menciptakan suasana di mana setiap orang merasa