78


Sering kali, cahaya itu hadir bukan dari dalam diri,

melainkan dari orang lain di sekitar kita, entah itu dari keluarga,

pasangan, teman atau bahkan orang asing. Manusia adalah

makhluk sosial yang saling terhubung, dukungan orang lain bisa

menjadi cahaya terang yang membimbing langkah seseorang

keluar dari jalan gelapnya.

Keluarga yang tidak pernah berhenti mendoakan, sahabat

yang dengan sabar mendengarkan keluh kesah, guru yang

memberi motivasi, atau bahkan orang asing yang menolong

tanpa pamrih semuanya bisa menjadi cahaya yang menyalakan

kembali semangat hidup. Dalam konteks ini, cahaya bukan

hanya sesuatu yang abstrak, melainkan sesuatu yang nyata,

berupa tindakan, perhatian, dan kasih sayang.

Analoginya seperti seseorang yang terjebak dalam lorong

gelap. Saat ia meraba-raba tanpa arah, merasa sendirian, dan

hampir menyerah, tiba-tiba dari ujung lorong, ada tangan yang

menyulut obor dan mengangkatnya tinggi. Obor itu tidak

langsung menghilangkan seluruh kegelapan, tetapi cukup untuk

menunjukkan arah keluar. Begitulah arti kehadiran orang lain

dalam kehidupan manusia, menjadi obor kecil yang menuntun

seseorang menuju terang.

Jika direnungkan, perjalanan hidup setiap orang pasti

memiliki babak gelap dan babak terang. Tidak ada satu pun

manusia yang terus berada dalam cahaya tanpa pernah