memanfaatkan waktunya dengan baik. Rasulullah SAW
misalnya, dikenal membagi hari-harinya dengan teratur, ada
waktu untuk beribadah, bekerja, berdakwah, mengajar,
bermusyawarah, hingga waktu untuk keluarga. Tidak ada bagian
dari hidup beliau yang terbuang percuma.
Demikian pula para tokoh-tokoh terdahulu, sebut saja Imam
Nawawi, yang hanya hidup sekitar 45 tahun, mampu menulis
puluhan karya penting yang masih dipelajari hingga kini.
Produktivitas semacam itu tidak mungkin terwujud tanpa
kedisiplinan dalam memanfaatkan waktu. Dalam dunia modern,
penemu dan ilmuwan juga menunjukkan hal yang sama. Thomas
Alva Edison, misalnya, tidak dikenal karena kecerdasannya
semata, tetapi karena kesungguhannya menggunakan waktu
untuk bereksperimen. Ia mencatat lebih dari seribu paten
penemuan sepanjang hidupnya. Di Indonesia sendiri sebut saja
bapak teknologi kita BJ Habibie yang selalu menghargai setiap
waktu dalam hidupnya, ia berhasil menjadi salah satu tokoh
berpengaruh di kancah Nasional bahkan Internasional. Hal ini
menunjukkan bahwa kedisiplinan terhadap waktu dapat
melahirkan karya yang besar.
Dari tokoh-tokoh ini kita dapat mengambil pembelajaran
bahwa perbedaan hasil hidup seseorang tidak hanya ditentukan
oleh bakat atau peluang, tetapi juga oleh bagaimana ia
menggunakan waktu yang dimilikinya.