begitu besarnya motivasi yang diberikan oleh agama, dan tidak
ada hal yang bisa membuat kita merasa tidak berharga dalam
hidup, semua harus dijalani dengan penuh rasa Syukur.
Ada perbedaan mendasar antara orang yang bersyukur dan
orang yang tidak pernah puas. Orang yang senantiasa bersyukur
melihat kehidupan sebagai perjalanan yang penuh anugerah. Ia
sadar bahwa kebahagiaan bukan soal memiliki segalanya, tetapi
soal mampu menikmati apa yang sudah ada. Sementara orang
yang tidak pernah puas cenderung terjebak dalam siklus
membandingkan diri dengan orang lain. Ia selalu melihat ke atas
tanpa pernah menoleh ke dalam dirinya. Akibatnya, apa pun yang
dimiliki terasa kurang, dan kebahagiaan pun semakin jauh dari
genggaman.
Rasa syukur juga menjadi penyeimbang ketika kita
dihadapkan pada masalah. Tidak ada manusia yang hidup tanpa
beban, tanpa maslah atau bahkan tanpa luka. Namun, orang yang
bersyukur cendrung akan lebih kuat menghadapi cobaan, karena
ia mampu menemukan hal positif meskipun dalam keadaan sulit.
Misalnya, ketika mengalami kegagalan, ia bisa berkata: “Saya
gagal kali ini, tetapi saya mendapat pengalaman berharga yang
akan membantu saya di masa depan.” Atau ketika kehilangan
sesuatu, ia bisa berkata: “Saya kehilangan satu hal, tetapi saya
masih punya banyak hal lain yang patut saya jaga.” Dengan