kepada Allah melalui doa-doa penuh kerendahan hati, sambil
memohon agar dirinya tidak dicatat sebagai pemimpin lalai. Dari
Umar, kita belajar bahwa resah dalam tanggung jawab besar
hanya bisa diringankan ketika disandarkan pada Allah, bukan
pada kekuatan diri semata.
Keresahan juga pernah dialami Rabi’ah al-Adawiyah,
perempuan sufi yang sejak kecil hidup dalam kemiskinan,
kesendirian, bahkan pernah dijual sebagai budak. Dalam keadaan
yang tampak gelap itu, ia memilih menyerahkan semua
keresahannya kepada Sang Pencipta. Doa dan ikhtiar menjadi
jalannya untuk menemukan ketenangan, hingga keresahan yang
awalnya menghimpit berubah menjadi pintu cinta kepada Allah.
Hidupnya dikemudian hari dikenal sebagai teladan yang
zuhud dan kepasrahan total, tanpa lagi digelisahkan oleh dunia.
Dari kisahnya, kita memahami bahwa resah tidak harus menjadi
penjara batin, tetapi bisa menjadi jalan menuju ketenangan jika
sepenuhnya dikembalikan kepada Tuhan. Dengan begitu,
pengalaman Umar dan Rabi’ah sama-sama menegaskan bahwa
beban sebesar apa pun akan terasa ringan ketika manusia kembali
kepada Sang Pencipta.
Ketenangan yang lahir dari menyerahkan resah kepada
Tuhan berbeda dengan ketenangan semu yang ditawarkan oleh
dunia yang fana. Dunia sering kali memberikan hiburan
sementara, yang hanya menutupi luka tanpa benar-benar