105


Mengembalikan resah pada Tuhan juga berarti melatih

keikhlasan dalam hidup, ada hal-hal yang tidak bisa dijelaskan

dengan logika manusia, ada pula peristiwa-peristiwa yang tidak

berjalan sesuai keinginan. Ketika semua usaha sudah dilakukan

namun hasilnya tetap mengecewakan, manusia bisa saja merasa

putus asa. Tetapi ketika hati diarahkan kepada sang pencipta,

perlahan-lahan tumbuh sikap sabar dan menerima dengan ikhlas.

Namun bukan juga berarti pasrah tanpa usaha, melainkan

memahami bahwa setiap hasil adalah bagian dari rencana yang

lebih luas dan penuh hikmah.

Dari hal-hal seperti inilah manusia belajar bahwa

melepaskan bukanlah kehilangan, melainkan bentuk kepatuhan

pada kehendak yang lebih tinggi. Dalam litelatur Sejarah juga

telah mencatat bahwa ketika Umar bin Khattab, khalifah yang

terkenal tegas, pernah menghadapi masa sulit ketika umat Islam

mengalami tahun kelaparan (Ramaadah). Rakyat banyak

menderita, ternak mati, dan kebutuhan pokok sangat sulit

didapat.

Umar yang memikul amanah besar tentu dilanda resah

yang mendalam, ia tidak pernah membiarkan kegelisahan itu

membuatnya putus asa. Umar menolak hidup lebih baik dari

rakyatnya, ia hanya berbuka dengan minyak zaitun, dan setiap

malam berkeliling untuk memastikan keadaan umat, yang paling

penting, umar selalu mengembalikan seluruh keresahannya